<<< Lembaga Kajian Ilmiah Mahasiswa >>>

::Wilujeung Sumping di Weblog LKIM UNAND Padang::. Semoga site gratisan ini bukan hanya menambah literatur-literatur dalam dunia kepenulisan, tetapi juga lebih khusus untuk menambah khazanah keilmuan science dan keislaman, karena di masa kebangkitan seperti sekarang ini (menurut sejarah islam) yang sebelumnya Islam di Andalusia (Spanyol) begitu kuat dan hebatnya, harus tunduk dan hancur oleh kaum Hulagu dari bangsa Bar-Bar, oleh karena itu kita pun di harapkan untuk selalu berkarya, baik melalui dunia kepenulisan, dunia jurnalistik maupun yang lainnya, karena memang tidak bisa kita pungkiri bahwa Islam khususnya yang ada di Indonesia ini sangat butuh dengan orang-orang yang profisional dalam bidangnya masing-masing. Nah...site ini pun tampil untuk menunjukkan bahwa kami ingin menambah khazanah keislaman dalam berkarya, walaupun hanya sebutir debu di padang pasir, tetapi akan sangat bermakna jika kita mendalaminya, Amin

Minggu, 06 Juni 2010

Waspadai Bahaya Sampah Elektronik


E-WASTE atau Electronic Waste adalah sampah / limbah yang berasal dari berbagai peralatan elektronik yang sudah tidak terpakai akibat kemajuan teknologi, perubahan trend dan status dari umur manfaat barang yang sudah tidak berguna lagi. Barang yang termasuk dalam kategori E-Waste meliputi berbagai jenis peralatan elektronik yang telah usang, seperti komputer, server, monitor, printer, scaner TV serta berbagai perangkat telekomunikasi seperti telepon selular, pager, kalkulator, perangkat audio dan video, dan lain sebagainya.

Perubahan umur dan kemajuan teknologi bidang elektronik memegang kontribusi yang cukup kuat dalam peningkatan volume sampah elektronik yang dibuang. Pada kurun waktu 1997 sampai 2005 saja, rata�rata jangka umur komputer di negara�negara maju turun dari 6 tahun menjadi kurang dari 1 tahun. Sedangkan untuk penggunaan ponsel, rata�rata hanya dua tahun. Hal ini menyebabkan sebanyak 2�50 ton sampah elektronik dihasilkan setiap tahunya dan memberikan masukan sebanyak 5 persen dari total limbah padat yang dihasilkan perkotaan di seluruh dunia.

Untuk mengurangi kepadatan volume limbah eletronik, E-Waste secara berkala diekspor ke negara�negara berkembang lainya di dunia. Asia dan Afrika adalah kawasan potensial untuk membuang limbah�limbah ini. Sampai akhir 2005, ditemukan kasus sebanyak 47 persen E-Waste di ekspor secara ilegal melalui pelabuhan laut di Eropa dan sebanyak 23 ribu metrik ton sampah elektronik di ekspor secara ilegal ke India, China dan Afrika. Di Amerika, diperkirakan sebanyak 50�80 persen sampah elektronik didaur ulang dan diekspor dengan cara ini.

Pada awalnya, penanganan limbah elektronik ini sudah diberlakukan dengan baik seperti dengan cara mendaur ulang. Namun karena laju volume limbah yang tidak sebanding dengan kapasitas daur ulang, maka mulailah limbah elektronik ini di ekspor ke negara�negara berkembang dengan dalih alih teknologi. Mereka melimpahkan permasalahan ini pada kawasan yang mempunyai celah terhadap pengawasan dan pengelolaan lingkungan yang lemah. Disamping itu, biaya untuk mengekspor limbah elektronik yang lebih murah dibandingkan dengan biaya daur ulang, mendorong laju peningkatan ekspor limbah elektronik secara berkala. Hal ini didukung dengan adannya permintaan akan elektronik bekas dari negara�negara di Asia dan Afrika. Karena secara ekonomis, limbah elektronik ini masih memberikan manfaat lebih. Namun, pada akhirnya, ketika manfaat dan nilai dari limbah elektronik yang di ekspor ini sudah berakhir, maka akan menjadi tumpukan sampah yang sudah tidak berguna lagi dan berpotensi menimbulkan permasalahan baru pada lingkungan akhir limbah ini dibuang, dari polusi racun yang ditimbulkanya. Hal ini akan menimbulkan permasalahan baru di area negara yang mengimpor limbah elektronik tersebut. Dengan kata lain, limbah elektronik tersebut hanya berpindah tempat sementara di tempat yang baru.

Berikut ini adalah gambaran, perjalanan limbah elektronik yang di ekspor dari negara�negara maju ke kawasan negara - negara berkembang di Asia dan Afrika :

Sumber : www.greenpeace.org
Kategori File : Toxics

Bahaya dan Dampak E-Waste :
Kandungan material yang digunakan dalam komponen elektronik, pada umumnya berasal dari berbagai kombinasi bahan kimia beracun dan logam berat. Dalam 1 produk elektronik, bisa terdiri dari banyak komponen berbeda dan sebagian besar komponen elektronik mengandung zat berbahaya seperti : timbal, air raksa, cadium, berilium, brominates flame / BFRs dan senyawa kimia lainya. Zat berbahaya ini menyebabkan polusi yang berdampak tidak hanya pada lingkungan tapi juga pada kesehatan manusia. Pada kasus tertentu bisa menyebabkan kanker dan penghambat perkembangan janin pada ibu hamil serta anak�anak. Jadi satu jenis produk elektronik bisa menghasilkan berbagai macam limbah berbaya yang berasal dari komponen�komponen peralatan yang berada didalamnya.

Kandungan brominates flame yang digunakan untuk papan sirkuit dan casing misalnya, bisa mengakibatkan gangguan yang berhubungan dengan neourotoksisitas, yaitu ganggunan pada fungsi memori, sistem tiroid dan hormon estrogen serta eksposur dalam rahim yang terkait dengan masalah perilaku. Cadium yang digunakan pada baterai isi ulang, kontak, saklar dan CRT�Cathode Ray Tube, mengandung zat racun yang tidak terurai oleh lingkungan / bioaccumulation dan dapat menyebabkan gangguan ginjal dan tulang. CTR pada monitor, mengandung logam timah yang bisa mengakibatkan penurunan intelegensia pada anak�anak, merusak saraf dan darah serta sistem reproduksi pada orang dewasa. Polivinil klorida (PVC) merupakan bahan plastik yang digunakan untuk casing dan pembungkus atau isolator pada kawat / kabel. Diklorinasi dioxin dan furan yang dilepaskan ketika PVC dibakar, merupakan senyawa yang bersifat peristen dan bersifat karsinogen, sehingga sangat beracun meski dalam konsentrasi yang rendah. Senyawa ini dapat dapat mencemari lingkungan dan dapat merusak sistem hormon, menurunkan kapasitas reproduksi, dan sistem kekebalan tubuh pada manusia.

Meskipun E-Waste pada dasarnya dapat di daur ulang, namun bahaya yang ditimbulkannya dimasa yang akan datang perlu diwaspadai. Seleksi produk dan peralatan elektronik yang kita gunakan mungkin bisa jadi salah satu pilihan untuk menjaga lingkungan kita bebas dari limbah elektronik. Letak geografis negara kita dengan jumlah penduduk yang besar memungkinkan limbah�limbah tersebut masuk secara ilegal dari berbagai pintu. Untuk itu, perlu adanya kerja yang berkesinambungan dari berbagai pihak untuk memproteksi wilayah kita dengan sistem pengelolaan limbah yang lebih konkret dan bertanggung jawab. Selain itu dukungan terhadap perusahaan yang memproduksi barang elektronik dengan cara yang ramah lingkungan, merupakan salah satu cara untuk menunjukan kepedulian kita pada lingkungan sekitar, dan pastikan bahwa produk�produk yang kita gunakan merupakan produk yang aman dan bisa di daur ulang. Untuk mengenali produk�produk yang tidak merusak lingkungan, ada baiknya untuk selalu mengecek apakah produk tersebut telah lolos sertifikasi eco label / green label atau tidak.

Selain itu, penerapan sistem EPR (Extended Producer Responsibility)�yaitu program dimana produsen bertanggung jawab untuk mengambil kembali produk-produk yang tidak terpakai�perlu terus digalangkan, agar pencemaran dan penggunaan sumber daya alam dan energi dari setiap tahap siklus hidup produk bisa dihemat, baik melalui rekayasa desain produk ataupun rekayasa teknologi proses manufacturnya. Dengan demikian peranan keterlibatan berbagai pihak dalam menjalankan fungsi kontrol dan tanggung jawabnya terhadap pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan, bisa bersinergi satu dengan yang lainnya.(*)

*Cucuk T (Ngagel Mulyo,Surabaya)
teman sepenulisan di Lomba Penulisan Kementrian Lingkungan Hidup 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar