<<< Lembaga Kajian Ilmiah Mahasiswa >>>

::Wilujeung Sumping di Weblog LKIM UNAND Padang::. Semoga site gratisan ini bukan hanya menambah literatur-literatur dalam dunia kepenulisan, tetapi juga lebih khusus untuk menambah khazanah keilmuan science dan keislaman, karena di masa kebangkitan seperti sekarang ini (menurut sejarah islam) yang sebelumnya Islam di Andalusia (Spanyol) begitu kuat dan hebatnya, harus tunduk dan hancur oleh kaum Hulagu dari bangsa Bar-Bar, oleh karena itu kita pun di harapkan untuk selalu berkarya, baik melalui dunia kepenulisan, dunia jurnalistik maupun yang lainnya, karena memang tidak bisa kita pungkiri bahwa Islam khususnya yang ada di Indonesia ini sangat butuh dengan orang-orang yang profisional dalam bidangnya masing-masing. Nah...site ini pun tampil untuk menunjukkan bahwa kami ingin menambah khazanah keislaman dalam berkarya, walaupun hanya sebutir debu di padang pasir, tetapi akan sangat bermakna jika kita mendalaminya, Amin

Senin, 21 Maret 2011

Formulir Pendaftaran OR LKIM 2011

Formulir Pendaftaran OR LKIM 2011
N a m a                                         : ______________________________________________
NO. BP                                        : ______________________________________________
Jurusan                                         : ______________________________________________
Jenis Kelamin                                : ______________________________________________
TTL                                              : ______________________________________________
NO. Telp/Hp                               : ______________________________________________
Alamat di Padang                          : ______________________________________________
                                                      ______________________________________________
Alamat di Tempat Asal                 : ______________________________________________
                                                      ______________________________________________
Agama                                        : ______________________________________________
e-mail                                         : ______________________________________________
website/weblog                           : ______________________________________________
Penghargaan yg pernah diraih : (sebutkan judul, tahun, tingkat dan acaranya)
1 ______________________________________________
2 ______________________________________________
3 ______________________________________________
Karya Ilmiah yang pernah dibuat : (sebutkan judul, tahun, tingkat dan acaranya)
1 ______________________________________________
2 ______________________________________________
3 ______________________________________________
Padang,      Maret 2011


(_________________)
NO. BP
 
 Dengan ini bahwa data ini benar saya buat tanpa paksaan siapapun dan saya berjanji akan menjadi  pengurus LKIM yang aktif jika terpilih

Open Recruitment


silahkan share ke teman-teman yang lain ya (*_^)

Senin, 20 Desember 2010

Selamat Kepada Dr. Rusfidra. S.Pt, MP

Selamat Kepada Dr. Rusfidra. S.Pt, MP yang terpilih menjadi Ketua Jurusan Produksi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Andalas semoga saja amanah yang diembankan bisa terlaksana dengan baik dan Fakultas Peternakan semakin maju didepan

Silsilah Nabi

bersimpuh, hanya bersujud padamu ya Rabb

ESTRUS-LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI REPRODUKSI

Sistem reproduksi memiliki 4 dasar yaitu untuk menghasikan sel telur yang membawa setengah dari sifat genetik keturunan, untuk menyediakan tempat pembuahan selama pemberian nutrisi dan perkembangan fetus dan untuk mekanisme kelahiran. Lokasi sistem reproduksi terletak paralel diatas rektum. Sistem reproduksi dalam terdiri dari ovari, oviduct, dan uterus (Shearer, 2008).

Ovari merupakan organ reproduki yang penting. Terdapat dua ovari yaitu sebelah kanan dan kiri. Besarnya sekitar 1,5 inci dengan tebal sekitar 1 inci dan terletak di dalam suatu membran seperti kantungn ovarian bursa. Ovari bertanggung jawab pada sekresi hormon estrogen dan progesterone dan produksi telur yang baik untuk dibuahi. Telur-telur mulai matang di ovari dalam suatu cairan berisi folikel. Pertumbuhan folikel diatur oleh hormon pituitary, yaitu Follicle Stimulating Hormone (FSH). Selanjutnya sel yang mana dibatasi oleh folikel dan dikelilingi sel telur akan mensekresikan estrogen untuk merespon jumlah hormone pituitary hormone lainnya meningkat yaitu Luteinizing Hormone (LH). Jumlah estrogen mencapai maksimum pada saat fase standing heat. Diikuti dengan meningginya LH pada telur yang dilepaskan dari folikel dan ovulasi yang terjadi (Shearer, 2008).

Oviduct merupakan tabung panjang yang menghubungkan ovari dengan uterus. Di ujung terdekat ovari, oviduct dilebarkan ke dalam infundibulum. Selama fase estrus, posisi infundibulum mengelilingi ovari untuk menjaga sel telur yang terovulasi di dalam oviduct. Oleh karena itu, di dalam oviduct, sel telur berjalan ke arah uterus (Shearer, 2008).
Uterus berbentuk Y terdiri dari kanan dan kiri yang terhuung pada oviduct. Jalan dai kedua tanduknya membentuk tubuh uterus. Uterus berfungsi untuk membawa sel sperma menuju oviduct dan membawa nutrisi dan menyediakan tempat untuk perkembangan janin. Pada anak sapi dinding muskular uterus mempunyai kemampuan untuk ekspulsi pada janin (Shearer, 2008).

2.2 Definisi dan Periode di dalam Siklus Estrus
Siklus estrus adalah waktu antara periode estrus. Betina memiliki waktu sekitar 25-40 hari pada estrus pertama. Mencit merupakan poliestrus dan ovulasi terjadi secara spontan.durasi siklus estrus 4-5 hari dan fase estrus sendiri membutuhkan waktu. Tahapan pada siklus estrus dapat dilihat pada vulva. Fase-fase pada siklus estrus diantaranya adalah estrus, metestrus, diestrus, dan proestrus. Periode-periode tersebut terjadi dalam satu siklus dan serangkaian, kecuali pada saat fase anestrus yang terjadi pada saat musim kawin (Nongae, 2008).
Fase proestrus dimulai dengan regresi corpus luteum dan berhentinya progesteron dan memperluas untuk memulai estrus. Pada fase ini terjadi pertumbuhan folikel yang sangat cepat. Akhir periode ini adalah efek estrogen pada sistem saluran dan gejala perilaku perkembangan estrus yang dapat diamati (Nongae, 2008). Menurut Shearer (2008), fase proestrus berlangsung sekitar 2-3 hari dan dicirikan dengan pertumbuhan folikel dan produksi estrogen. Peningkatan jumlah estrogen menyebabkan pemasokan darah ke sistem reproduksi untuk meningkatkan pembengkakan sistem dalam. Kelenjar cervix dan vagina dirangsang untuk meningkatkan aktifitas sekretori membangun muatan vagina yang tebal.
Fase estrus merupakan periode waktu ketika betina reseptif terhadap jantan dan akan melakukan perkawinan. Ovulasi berhubungan dengan fase estrus, yaitu setelah selesai fase estrus (Nongae, 2008). Pada fase ini estrogen bertindak terhadap sistem saraf pusat. Selama fase ini sapi menjadi sangat kurang istirahat yang kemungkinan dapat kehilangan dalam memperoduksi susu selama fase ini berlangsung. Pasokan darah ke dalam sistem reproduksi meningkat dan sekresi kelenjar dirangsang dengan membangun viscid mucus yang dapat diamati pada vulva. Kira-kira setelah 14-18 jam, fase estrus mulai berhenti. Selanjutnya betina tidak mengalami ovulasi hingga setelah fase estrus (Shearer, 2008).

Fase metestrus diawali dengan penghentian fase estrus Umumnya pada fase ini merupakan fase terbentuknya corpus luteum sehingga ovulasi terjadi selama fase ini. Selain itu pada fase ini juga terjadi peristiwa dikenal sebagai metestrus bleeding (Nongae, 2008).
Fase diestrus merupakan fase corpus luteum bekerja secara optimal. Pada sapi hal ini di mulai ketika konsentrasi progresteron darah meningkat dapat dideteksi dan diakhiri dengan regresi corpus luteum. Fase ini disebut juga fase persiapan uterus untuk kehamilan (Nongae, 2008). Fase ini merupakan fase yang terpanjang di dalam siklus estrus. Terjadinya kehamilan atau tidak, CL akan berkembang dengan sendirinya menjadi organ yang fungsional yang menhasilkan sejumlah progesterone. Jika telur yang dibuahi mencapai uterus, maka CL akan dijaga dari kehamilan. Jika telur yang tidak dibuahi sampai ke uterus maka CL akan berfungsi hanya beberapa hari setelah itu maka CL akan meluruh dan akan masuk siklus estrus yang baru (Shearer, 2008).
Ciri- ciri lain dari siklus estrus pada mencit adalah pada fase diestrus, vagina terbuka kecil dan jaringan berwarna ungu kebiruan dan sangat lembut. Pada fase proestrus, jaringan vagina berwarna pink kemerahan dan lembut. Pada fase estrus, vagina mirip dengan pada saat fase proestrus, namun jaringannya berwarna pink lebih terang dan agak kasar. Pada fase metestrus 1, jaringan vagina kering dan pucat. Pada metestrus II, vagina mirip metestrus 1 namun biobir vagina edematous (Hill, 2006).


2.3 Hormon Pengendali Siklus Estrus pada Mencit

Regulasi pada siklus estrus melibatkan interaksi resiprokal antara hormon reproduksi dari hypothalamus, anterior pituitry, dan sel-sel telur. Interaksi antara uterus dengan sel-sel telur juga penting. PGF2 dari uterus merupakan luteolysin alami yang menyebabkan regresi corpus luteum dan penghentian produksi progesteron (Nongae, 2008).
Progesteron memiliki peranan dominan dalam meregulasi siklus estrus. Selama fase diestrus corpus luteum yang bekerja dengan optimal, konsentrasi progesteron yang tinggi menghambat pelepasann FSH dan LH melalui kontorl umpan balik negatif dari hypothalamus dan anterior pituitary. Progesteron juga menghambat perilaku estrus. Diharapkan pada kondisi kehamilan , konsentrasi progesterone yang tinggi menghambat pelepasan hormon gonadotropin sebaik menghambat perilaku estrus penigkatan kecil pada LH yang terjadi selama fase diestrus merupakan faktor untuk mempertahankan fungsi corpus luteum. Pada pertengahan fase diestrus meningkatkan pertumbuhan folikel dan estrogen, yang dididahului dengan menigkatnya FSH, yang sebenarnya merupakan perubahan kecil jika dibandingkan pada perubahan yang terjadi selama fase estrus. Jika betina tidak mengalami kehamilan selama fase awal estrus, PGF2 akan dilepaskan dari uterus dan dibawa menuju ovari (Nongae, 2008).


BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Siklus Estrus ini dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 29 April 2008, pukul 13.00 WIB - Selesai, di Laboratorium Fisiologi Hewan, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang.

3.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum Siklus Estrus ini antara lain mikroskop cahaya, gelas obyek, gelas penutup, pipet, cotton bud, mencit betina berusia 2-3 bulan, mencit jantan, larutan alkohol fiksatif 70%, larutan Phosphat Buffer Saline (PBS) dan larutan pewarna giemsa.

3.3 Cara Kerja
Cotton bud dibilas dengan akuades dan dimasukkan ke dalam vagina mencit betina dengan sudut ± 45 C dan diusap sebanyak 2-3 kali putaran. Hasil usapan dari cotton bud dibuat preparat apusan. Preparat apusan dimasukkan ke dalam larutan alkohol fiksatif 70% selama 10 menit, kemudian diangkat dan dikeringanginkan. Apusan lalu dimasukkan ke dalam larutan Phosphat Buffer Saline (PBS) selama 5 menit, dibilas dengan air mengalir dan dikeringanginkan. Diamati morfologi sel epitel pada preparat yang telah dibuat di bawah mikroskop dengan perbesaran lemah (100X) kemudian perbesaran kuat (400X). Pengamatan dilakukan selama 7 hari dan dicatat perbedaan-perbedaan sel yang didapat pada tiap-tiap siklus estrus.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisa Prosedur
Cotton bud dibilas dengan akuades bertujuan untuk membasahi dan menghaluskan kapas cotton bud agar agar tidak menimbulkan rasa sakit pada vagina mencit, selain itu juga bertujuan agar epitel vagina mencit mudah menempel pada kapas yang telah dibasahi. Selanjutnya cotton bud dimasukkan ke dalam vagina mencit betina dengan sudut ± 45 C bertujuan epitel vagina dapat menempel secara merata pada kapas cotton bud dan diusap sebanyak 2-3 kali putaran supaya diperoleh epitel vagina mencit dalam jumlah banyak. Hasil usapan dari cotton bud dibuat preparat apusan. Preparat apusan dimasukkan ke dalam larutan alkohol fiksatif 70% selama 10 menit, kemudian diangkat dan dikeringanginkan. Larutan alkohol 70% fikastif berfungsi untuk menghentikan aktivitas pembelahan sel tanpa merusak struktur sel dan mempertahankan keadaan sel seperti semula (Iqbal, 2008). Apusan lalu dimasukkan ke dalam larutan Phosphat Buffer Saline (PBS) selama 5 menit untuk menjaga kondisi fisiologi sel epitel dan mempertahankan pH, dibilas dengan air mengalir untuk menghilangkan sisa-sisa PBS yang masih ada lalu dikeringanginkan. Selanjutnya apusan diberi pewarna Giemsa beberapa tetes ditunggu hingga mengering agar pewarna benar-benar meresap pada epitel. Giemsa sering digunakan untuk mewarnai kromosom dan juga jaringan-jaringan lain. Komponen aktif giemsa berupa eosin Y dan biru metilen (Sharma, 1976 dalam Sucipto, 2008).
Diamati morfologi sel epitel pada preparat yang telah dibuat di bawah mikroskop dengan perbesaran lemah (100X) kemudian perbesaran kuat (400X). Pengamatan dilakukan selama 7 hari dan dicatat perbedaan-perbedaan sel yang didapat pada tiap-tiap siklus estrus.


Fase Metestrus

Karakteristik:
Pada fase metestrus, histologi dari smear vagina menampakkan suatu fenomena kehadiran sel-sel yang bergeser dari sel-sel parabasal ke sel-sel superfisial, selain itu sel darah merah dan neutrofil juga dapat diamati
Sel-sel parabasal adalah sel-sel termuda yang terdapat pada siklus estrus. Karakteristik dari sel-sel parabasal adalah sebagai berikut:
1. Bentuknya bundar atau oval
2. Mempunyai bagian nukleus yang lebih besar daripada sitoplasma
3. Sitoplasmanya biasanya tampak tebal
4. Secara umum dengan pewarnaan berwarna gelap

(Widyawati, 2007).

Proses perubahan sel-sel parabasal menuju sel intermediet kemudian sel-sel superfisial dan sel-sel anucleate dapat dijelaskan sebagai berikut:
Bentuk bundar atau oval perlahan-perlahan akan berubah menjadi bentuk poligonal atau bentuk tidak beraturan
Ukuran nuklei yang besar secara perlahan-lahan akan mengecil, pada beberapa kasus nuklei mengalami kematian atau rusak secara bersamaan
Ukuran sitoplasma akan lebih tipis daripada semula.
Karena ukuran sitoplasma lebih kecil dari semula maka sel-sel parabasal yang berwarna gelap akibat pewarnaan akan berubah menjadi sel-sel yang bewarna lebih cerah akibat pewarnaan yang sama.
Proses perubahan di atas dapat ditengarai sebagai salah satu proses pada siklus estrus (Taw, 2008).

Fase Estrus

Karakteristik:
Karakteristik sel pada saat estrus yaitu penampakan histologi dari smear vagina didominasi oleh sel-sel superfisial, tetapi terdapat kornifikasi pada hasil preparat, pengamatan yang berulang menampakkan sel-sel superfisialnya ada yang bersifat anucleate
Sel-sel parabasal dan superfisial mudah untuk dibedakan, sedangkan sel-sel intermediet adalah sel yang terletak diantara sel parabasal dan sel superfisial. pada saat nukleus mengecil, membentuk pyknotic maka sel ini dapat diklasifikasikan pada sel superfisial (Karaca dan Uslu, 2008).

Fase Diestrus

Karakteristik:
Fase diestrus ditandai dengan ciri-ciri berikut, diantanranya: terjadi pengurangan jumlah sel superfisial dari kira-kira 100% pada fase sebelumnya menjadi 20% pada fase diestrus. Selain itu, jumlah sel parabasal dalam apusan preparat vagina menjadi meningkat, hasil ini dperkuat dengan pengujian yang dilakukan pada hari berikutnya.

Menurut Karaca dan Uslu (2008), Ciri siklus estrus tidak dapat dipisahkan dari proses perubahan yang terjadi pada sel-sel epitelnya, untuk itu berikut adalah penjelasan mengenai beberapa hal yang berhubungan dengan histologi sel epitel vagina:
Sel kornifikasi adalah tipe sel vagina yang paling tua dari sel parabasal, sel intermediate, sel superfisial, dan mempunyai ciri nukleus yang tidak lengkap.
Sel epitel adalah sel yang menyusun jaringan epitelium, biasanya terletak pada bagian tubu yang mempunyai lumen dan kantong misal vagina
Sel intermediet adalah tipe sel epitel vagina yang lebih tua dari parabasal tetapi lebih muda dari sel superfisial dan sel squamous tanpa nukleus
Inti sel pyknotic adalah nukleus yang telah degeneratif dan merupakan ciri dari sel superfisial


Menurut Taw (2008), Pengurutan proses pertumbuhan sel dari epitel sel vagina berkaitan dengan siklus estrus dapat diurutkan sebagai berikut;
Sel-sel parabasal (dijumpai pada fase proestrus, serta pada fase akhir diestrus).
Sel-sel intermediet (dijumpai pada fase proestrus akhir dan metestrus awal).
Sel-sel superfisial (fase metestrus akhir dan fase estrus).
Sel-sel squamous tanpa nukleus (fase estrus).


4.2.1 Perbedaan Siklus Menstruasi dan Siklus Estrus

Siklus menstruasi terjadi pada manusia dan primata. Sedang pada mamalia lain terjadi siklus estrus. Perbedaanya adalah, pada siklus menstruasi, jika tidak terjadi pembuahan maka lapisan endometrium pada uterus akan luruh keluar tubuh, sedangkan pada siklus estrus, jika tidak terjadi pembuahan, endomentrium akan direabsorbsi oleh tubuh.
Umumnya siklus menstruasi terjadi secara periodik setiap 28 hari (ada pula setiap 21 hari dan 30 hari) yaitu sebagai berikut :
Pada hari 1 sampai hari ke-14 terjadi pertumbuhan dan perkembangan folikel primer yang dirangsang oleh hormon FSH. Pada seat tersebut sel oosit primer akan membelah dan menghasilkan ovum yang haploid. Saat folikel berkembang menjadi folikel Graaf yang masak, folikel ini juga menghasilkan hormon estrogen yang merangsang keluarnya LH dari hipofisis. Estrogen yang keluar berfungsi merangsang perbaikan dinding uterus yaitu endometrium yang habis terkelupas waktu menstruasi, selain itu estrogen menghambat pembentukan FSH dan memerintahkan hipofisis menghasilkan LH yang berfungsi merangsang folikel Graaf yang masak untuk mengadakan ovulasi yang terjadi pada hari ke-14, waktu di sekitar terjadinya ovulasi disebut fase estrus. Selain itu, LH merangsang folikel yang telah kosong untuk berubah menjadi badan kuning (Corpus Luteum). Badan kuning menghasilkan hormon progesteron yang berfungsi mempertebal lapisan endometrium yang kaya dengan pembuluh darah untuk mempersiapkan datangnya embrio. Periode ini disebut fase luteal, selain itu progesteron juga berfungsi menghambat pembentukan FSH dan LH, akibatnya korpus luteum mengecil dan menghilang, pembentukan progesteron berhenti sehingga pemberian nutrisi kepada endometriam terhenti, endometrium menjadi mengering dan selanjutnya akan terkelupas dan terjadilah perdarahan (menstruasi) pada hari ke-28. Fase ini disebut fase perdarahan atau fase menstruasi. Karena tidak ada progesteron, maka FSH mulai terbentuk lagi dan terjadilan proses oogenesis kembali (Dhayu, 2000).


Jika pada manusia dan beberapa primata lainnya mempunyai siklus menstruasi, pada mamalia lain dikenal adanya siklus estrus (estrous cycle). Perbedaannya dengan menstruasi adalah pada siklus estrus lapisan endometrium yang telah dipersiapkan untuk menerima konsepsi, akan diserap kembali oleh uterus bila tak terjadi pembuahan, sehingga tidak banyak terjadi pendarahan. Pada hewan betina periode seputar ovulasi; vagina mengalami perubahan yang memungkinkan terjadinya perkawinan, periode ini disebut estrus. Dalam bahasa latin; oestrus berarti gairah atau kegilaan, kopulasi hanya terjadi pada periode estrus. Pada peternak sapi, insemenasi buatan dilakukan pada saat sapi betina mengalami estrus yang ditandai: vagina mengalami 3A dalam bahasa Jawa (Abuh = ukuran lebih besar, Abang = warna merah, Anget = hangat). Jangka siklus estrus berbeda-beda; pada tikus hanya 5 hari, anjing dan beruang hanya mengalami satu siklus pertahun, tetapi pada gajah mengalami beberapa kali siklus estrus pertahun (Widyawati, 2007).



Perbedaan siklus estrus dan menstruasi, diantaranya terletak pada fase-fase yang tejadi, yaitu pada siklus estrus fase yang terjadi, yaitu:
1. Proestrus, folikel mengalami pemasakan akhir.
2. Estrus, terjad ovulasi (mirip periodesexual receptivity pada sebagian besar hewan)
3. Metestrus, terjadi pembentukan corpus luteum
4. Diestrus, corpus luteum berfungsi optimal
Monoestrus dalam 1 tahun hanya mengalami 1x siklus estrus (anjing, serigala,beruang). Poliestrus dlm 1 th mengalami lebih dari 1x siklus estrus (babi, manusia, sapi). Poliestrus musiman, siklus estrus terjad lebih dari 1x tetapi hy pada musim tertentu saja, misal pd musim gugur (kambing, domba & rusa), pd musim semi (kuda & hamster)
Siklus menstruasi (Primata)
1. Fase mentruasi (destruktif), endometrium hancur & pembuluh2 darah pecah. Darah menstruasi mgd mucus, cell debris (jaringan yg hancur) dan cairan lain
2. Fase proliferatif (follicular), endometrium mengalami pertumbuhan (proliferasi) shg menjad tebal
3. Fase ovulasi, pembuluh2 darah pd endometrium tumbuh membesar dan terbentuk kelenjar-kelenjar pada endometrium
4. Fase secretory (luteal), terjadi aktivitas sekresi dr kelenjar2 pd endometrium

4.2.2 Histologi uterus

Tikus termasuk spesies yang mempunyai siklus estrus yang pendek, dimana kumpulam sel hanya ditemukan dalam medulla. Pada tikus betina, tahap siklus estrus ditentukan oleh vaginal smear. Mass cell dapat diamati selama siklus seksual dengan cara pewarnaan (pembuatan preparat) oleh ovari dan uterus. Mass cell yang didegranulasi hanya ditemukan, berbentuk bulat telur tetapi spindle dalam collagenous stroma. Penurunan fase siklus estrus, mass cell ditemukan dalam cellular stroma pada albuginea dan interstitium diantara folikel dan corpus lutea. Jumlah mass cell rendah ditemukan dalam fase proestrus dan meningkat pada fase estrus, metestrus dan diestrus dalam keduanya yaitu ovari dan uterus. Jumlah mass cell dalam korteks ovari tertinggi pada fase metaestrus. Selama siklus estrus, jumlah mass cell tertinggi diamati pada fase estrus dan metaestrus. Menurut Jones et al (1980) ditunjukkan bahwa mass cell dalam ovarian medulla tikus sangat tinggi pada fase estrus dan rendah pada fase proestrus, dimana mass cell juga didegranulasi pada fase proestrus. Berikut ini merupakan perbedaan jumlah mass cell dalam ovari dan uterus pada berbagai fase pada siklus estus (Karaca dan Uslu, 2008) :

Endometrium terdiri dari beberapa dan sebagian kecil mass cell daripada myometrium. Dalam Endometrium, mass cell diamati pada umumnya pada saat fase estrus, dimana diamati dengan jumlah mass cell paling sedikit pada fase diestrus dan fase proestrus. Penyebaran atau distribusi mass cell dapat terdantung dari variasi beberpa perubahan fisiologi selama siklus estrus dalam jaringan ovari uterus tikus. Spesifik siklus pada mass cell dan aksi secara langsung pada proses reproduksi dalam jaringan ovari dan uterus dapat ditentukan (Karaca dan Uslu, 2008)
.
4.2.3 Hormon-hormon yang meregulasi siklus estrus

Tikus mempunyai waktu siklus pada 4-5 hari, walaupun ovulasi terjadi secara spontan, dimana tidak berkembang secara menyeluruh fungsi corpus luteum namun menerima stimulasi coital. Ovulasi terjadi sekitar 109 jam setelah mulai tumbuh. Puncak estrogen sekitar 11 malam pada hari proestrus dan diantara hal tersebut serta malam hari terjadi perubahan progesteron, LH dan FsH. Selama proses tersebut, ovulasi juga terjadi sekitar 4 malam pada hari estrus berikutnya yaitu metestrus. Metestrus disebut tahap awal dari diestrus (diestrus I). Pada hari tersebut, corpus lutea tumbuh dengan volume maksimal, ditingkatkan pada 24 jam pada ovulasi. Hari sisanya (3 hari), ukuran sebelum metestrus pada siklus selanjutnya dan penyusutan sebelum estrus pada siklus estrus setelah hal tersebut. Siklus ovari tikus terdiri dari tiga hal yang berbeda pada corpus lutea dengan fase perkembangan yang berbeda juga (Hill, 2006).

Pada fase estrus, terlihat pengaruh estrogen dan dikarakteristikkan oleh sel kornifikasi yang nyata (jelas) dan hilangnya leukosit. Pada akhir fase estrus, lapisan kornifikasi tampak sloughed off dan invasi leukosit terjadi. Selama diestrus, leukosit tampak berlimpah. Fase proestrus, tanpa leukosit dan dikarakteristikkan oleh sel epitel yang dinukleasi. Fase estrus terjadi dengan pengaruh hormon gonadotropin dan sekresi estrogen mempunyai pengaruh yang besar. Fase metestrus, selama fase ini dimana sinyal stimulasi estrogen turun. Uterus dipengaruhi oleh progesteron dan menjadi sikretori. Tipe fase ini adalah jelas dan mungkin berakhir 1-5 hari. Beberapa hewan mengeluarkan akibat penurunan tingkatan estrogen. Pada fase metestrus dimana uterus dipengaruhi oleh progesteron dan menjadi sikretori. Tipe fase ini adalah jelas dan mungkin berakhir 1-5 hari.Fase diestrus dikarakteristikkan oleh aktivitas corpus luteum dimana dalam memproduksi progesteron (Hill, 2006).

Selama siklus estrus, endometrium pada semua mamlia mengalami proliferasi dan diferensiasi dalam respon perubahan tungkatan hormon seks steroid. Mass cell dalam organ reproduksi berperan dalam mengontrol regulasi aliran darah. Mass cell yang matur terdiri dari granula sebagai tempat efektor molekul misalnya histamin. Serotonin, protease serin, eksopeptidase dan neuropeptida (Stevens dan Austen 1989). Apabila terjadi aktivasi, mass cell menurunkan granula dalam proses sebagai kumpulan eksositosis atau degranulasi (Dvorak 1991).
Vasodilatasi, edema dan pertumbuhan uteri diamati dalam estrus yang diinduksi estrogen dengan penurunan histamin dari mass cell uteri (Spaziani 1975), dimana diindikasikan mass cell pada jaringan uteri berperan dalam repository pada histamin. Peningkatan jumlah mass cell selama progesteron predominan dan penurunan karena adanya estrogen, walaupun dengan pernyataan tersebut tidak ditemukan perbedaan dalam siklus estrusnya (Mathur dan Chaudhury 1988). Kuantitas mass cell ditingkatkan selama progesteron predominan dan jumlah diturunkan karena adanya estrogen. Mass cell pada hewan secara spesifik bersifat sensitif terhadap perubahan dalam tingkatan hormonal (Brandon dan Evans 1983).

4.2.3 Ciri-Ciri Siklus Estrus pada Tikus

Pada tikus betina yang sudah dewasa ovulasi terjadi pada fase estrus dari siklus estrus.
- proestrus merupakan periode persiapan yang ditandai dengan pemacuan pertumbuhan folikel oleh FSH sehingga folikel tumbuh dengan sepat . Proestrus berlangsung selama 2-3 hari. Pada fase kandungan air pada uterus meningkat dan mengandung banyak pembuluh darah dan kelenjar-kelenjar endometrial mengalami hipertrofi.

Gambar 4.5. Fase proestrus pada tikus putih
(Dvorak 1991).
- Estrus adalah masa keinginan kawin yang ditandai dengan keadaaan tikus tidak tenang, keluar lendir dari dalam vulva, pada fase ini pertumbuhan folikel meningkat dengan cepa, uterus mengalami vaskularisasi dengan maksimal, ovulasi terjadi dengan cepat, dan sel-sel epitelnya mengalami akhir perkebangan/terjadi dengan cepat.

Gambar 4.6. Fase estrus pada tikus putih (Dvorak 1991).
- Metestrus ditandai dengan terhentinya birahi, ovulasi terjadi dengan pecahnya folikel, rongga folikel secara berangsur-ansur mengecil,dan pengeluaran lendir terhenti. Selain itu terjadi penurunan pada ukuran dan vaskularitas.


Gambar 4.7 Fase metestrus pada tikus putih
(Dvorak 1991).

- Diestrus adalah periode terakhir dari estrus, pada fase ini corpus luteum berkembang dengan sempurna dan efek yang dihasilkan dari progesteron (hormon yang dihasilkan dari corpus luteum) tampak dengan jelas pada dinding uterus serta folikel-folikel kecil denan korpora lutea pada vagina lebih besar dari ovulasi sebelumnya.

Gambar 4.8 Fase diestrus pada tikus putih
(Dvorak 1991).
4.2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi estrus terutama berkaitan dengan hormon

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap estrus adalah histologi dan fungsi hipotalamus serta hipofisis dalam kaitannya dengan proses reproduksi, terjadinya pubertas pada hewan betina termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi siklus estrus serta proses pembentukan sel kelamin (gametogenesis). Selain itu terdapat faktor-faktor lain yang lebih berpengaruh yaitu hormon (Taw, 2008).
Hormon progesteron dipersiapkan uterus untuk implantasi blatosis, memelihara dan mengatur organ-organ reproduksi. Corpus luteum pada tikus merupakan sumber progesteron utama, sehingga kadar hormon progesteron sangat erat kaitannya dengan tingkat ovulasi. Semakin tinggi ovulasi, maka kadar hormon progesteron akan meningkat (Hill, 2006).Hormon progesteron bervariasi sesuai laju ovulasi (jumlah corpus luteum). Kelenjar endometrium uterus berfungsi mengeluarkan zat-zat makanan yang berupa susu uterus untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan embrio. Kelenjar - kelenjar mensintesa susu uterus berada dibawah kontrol hormon (Hill, 2006).

Pertumbuhan dan perkembangan folikel primer dirangsang oleh hormon FSH. Pada seat tersebut sel oosit primer akan membelah dan menghasilkan ovum yang haploid. Saat folikel berkembang menjadi folikel Graaf yang masak, folikel ini juga menghasilkan hormon estrogen yang merangsang keluarnya LH dari hipofisis. Estrogen yang keluar berfungsi merangsang perbaikan dinding uterus yaitu endometrium yang habis terkelupas waktu menstruasi, selain itu estrogen menghambat pembentukan FSH dan memerintahkan hipofisis menghasilkan LH yang berfungsi merangsang folikel Graaf yang masak untuk mengadakan ovulasi, waktu di sekitar terjadinya ovulasi disebut fase estrus (Taw, 2008).


DAFTAR PUSTAKA
Anonymous.. 2008. Pengenalan Hewan Coba. http://www.geocities.com/kuliah_farm/praktkum_farmakologi/hewan_coba.doc. Tanggal akses 5 Mei 2008.
Brandon J.M. dan J.E. Evans 1983. Changes in Uterine Mast Cells during the Estrous Cycle in the Syrian hamster. Am J Anat 167, 241-247. Tanggal akses 5 Mei 2008.
Dhayu. 2000. Siklus Menstruasi Pada Wanita. http://dhayubiologi.wordpress.com/. Tanggal akses 5 Mei 2008.
Dvorak A.M. 1991. Basophil and Mast Cell Degranulation and Recovery. In: Harris J.R., editor. Blood Cell Biochemistry. Vol 4, New York: Plenum Press. Pp 27-65.
Hill, Mark. 2006. Estrous Cycle. The university of new south wales. Sidney.http://www.lpp.uns.ac.id/web/moodle/moodledata/125/3Oogenesis.pdf. Tanggal akses 5 Mei 2008
Iqbal. 2008. Siklus Estrus pada Rattus norvegicus http://darmaqua.blogspot.com/feeds/posts/defaultp. Tanggal akses 5 Mei 2008.
Jones R.E., D. Duvall, dan L.J. Guilette. 1980. Rat Ovarian Mast Cells; Distribution and Cyclic Changes. Anat Rec 197, 489-493.
Karaca, T dan M.Y. Uslu. 2008. Distribution and Quantitative Patterns of Mast Cells in Ovary and Uterus of Rat. http://www.scielo.cl/scielo.php?pid=S0301-732X2007000200006&script=sci_arttext. Tanggal akses 5 Mei 2008. Tanggal akses 5 Mei 2008.
Marcondes, F. K., Bianchi, F. J. And Tanno, A. P. 2002. Determination Of The Estrous Cycle Phases Of Rats: Some Helpful Considerations. Universidade Estadual De Campinas, Av. Limeira. Piracicaba, Brazil
Mathur V.S. dan R. R. Chaudhury. 1988. The Effect of an Intrauterine Plastic device on the Mass Cell Count in the Rat Uterus. J Reprod Fert 15, 135-138.
Nakamura Y., M. Smith, A Krishna, P.F. Terranova. 1987. Increased Number of Mast Cells in the Dominant Follicle of the Cow: Relationship among Luteal Stromal and Hilar Region. Biol Reprod 37, 546-549.
Nongae. 2008. Estrus Cycle. http://nongae.gsnu.ac.kr/~cspark/teaching/chap5.html. Tanggal akses 10 Mei 2008
Shearer, J. K. 2008. Reproductive Anatomy and Physiology of Dairy Cattle. University Of Florida. Florida
Spaziani E. 1975. Accessory reproductive organs in mammals: Control of cell and tissue transport by sex hormones. Pharmacol Rev 27, 207-286.
Stevens R.L. dan K.F. Austen. 1989. Recent Advances in the Cellular and Molecular Biology of Mass Cells. Immunol Today 10, 381-386.
Sucipto. A. 2008. Kromosom dan Karyotipe. http://www.biology-um.com/data/abstrakweb/04-01.pdf. Tanggal akses 5 Mei 2008.
Taw. 2008. Oviduct and Uterus Histology. http://www.siu.edu/~tw3a/utest.jpg. Tanggal akses 5 Mei 2008. Tanggal akses 5 Mei 2008.
Whittier, J.C. 1993. Reproductive Anatomy and Physiology of the Cow. http://extension.missouri.edu/.../ansci/g02015.htm. Tanggal akses 5 Mei 2008.
Widyawati. P. 2007. Struktur Reproduksi Wanita. http://209.85.175.104/search?q=cache:4QVV9MvOGvwJ:www.sch.id/pelajrn/b.........................................../tahukah.htm+siklus+menstruasi+mamalia&hl=id&ct=clnk&cd=2&gl=id. Tanggal akses 5 Mei 2008.

CARA MEMBUAT KERIPIK SINGKONG

Senin, 06 Desember 2010

Juara 2 Tingkat Nasional, PPRI ke-9 LIPI & AJB-Bumi Putera



wajahku juga nongol di Web KSE
http://www.karyasalemba4.org/content/agus-muhar-meraih-prestasi-di-ajang-ppri-xi-2010

Jumat, 05 November 2010

ALAT-ALAT PENGOLAHAN DAGING DAN MEKANISMENYA

TUGAS ILMU DAN TEKNOLOGI DAGING

ALAT-ALAT PENGOLAHAN DAGING
DAN MEKANISMENYA




Disusun Oleh :
AGUS MUHAR
NIM 07 163 028








Dosen Pengasuh :
Indri Juliyarsi, SP. MP
NIP : 19760 715200112 2002




FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG, 2010


1. Pengering daging sederhana dengan bantuan energi matahari


Kriteria Alat :

1. bersifat tradisional tidak menggunakan tombol
2. dibuat dengan kayu atau logam besi yang yang diampal supaya tidak cepat berkarat dan tutup terbuat dari plastik atau Polyetilen
3. Proses pengeringannya tergantung cuaca
4. Murah dan butuh waktu yang lama

Prosedur kerja :

1. alat pengering sederhana biasanya dijemur dahulu sebelum daging ditaruh diatas guna papannya kering dan tidak berjamur sehingga bisa menyebabkan kontaminasi pada daging yang akan dijemur
2. setelah papan (sebagai alasnya kering) baru daging disimpan diatasnya yang sebelumnya dipotong-potong tipis dahulu sebelumnya.
3. Daging dibolak-balik supaya pengeringannya rata.

Alat diatas selain untuk pengeringan daging : dendeng, gepuk (Sunda) (Dendeng : Minang) biasnya juga dipakai untuk Gaplek, singkong, ikan dan hasil tangkapan laut lainnya


2. FREEZER (Tipe : SK 1050)



Foto : http://www.pabrikmesin.com
Kriteria Alat :

1. Tombol power berguna untuk menghidupak dan mematikan freezer dan tombol pengatur suhu
2. Turbin yang berbentuk kipas untuk mengatur suhu dan terdapat celah-celah kecil supaya kondisi tetap stabil

Prosedur kerja :
1. Daging disimpan dalam bentuk karkas dan dibungkus dengan plastik
2. Atur dengan suhu yang ada pada bagian atas freezer dengan titik beku berkisar (-120C – (-240C))
3. Sesuaikan suhu difreezer dengan suhu karkas, karena karkas yang masih hangat akan menurunkan temperatur ruang pendingin sehingga jumlah karkas didalam ruang pendingin seharusnya tidak berlebihan, dan temperatur ruang harus tetap diatur lebih rendah dari 30C (Urbain, 1971).
4. Perlu diperhatikan bahwa karkas sapi yang berat dengan lemak yang tinggi (lemak menurunkan efisiensi pengeluaran panas dari bagian dalam karkas), akan memerlukan waktu kira-kira 48 – 72 jam untuk mencapai temperatur internal 50C atau lebih rendah, sedangkan karkas yang lebih ringan,misalnya karkas veal, babi dan domba memerlukan waktu 24 – 36 jam sehingga waktu pendinginannya dapat dipersingkat sampai 25 – 35% bila menggunakan suatu udara pendingin dengan velositas yang tinggi (Urbain, 1971; Forest et al., 1975).
5. Lakukan pengontrolan terhadap karkas dan suhu sehingga tidak terbentuk kristal es yang berlebihan.



3. Bowl Cutter (Mesin Pengaduk Adonan Bakso)

Doc: Moh ROHMAN, Minggu, 30 Mei 2010

Pembuatan bakso terdiri dari persiapan bahan, penghancuran daging, pencampuran bahan dan pembuatan adonan, pencetakan dan pemasakan. Persiapan bahan meliputi pemilihan daging dan penyiangan bahan tambahan lainnya. Daging bisa dipilih yang segar, bersih atau dibersihkan dari lemak permukaan dan jaringan ikat atau urat.

Pembentukan adonan dapat dilakukan dengan mencampur seluruh bagian bahan kemudian menghancurkannya sehingga membentuk adonan. Dalam kapasitas besar biasanya menggunakan mesin pengaduk (bowl cutter).



Kriteria alat :
1. Mesin ini terdiri dari mangkok besar yang berputar
2. pisau pemotong yang berputar yang terdapat di dalam mangkok besar
3. tombol power untuk mematikan dan menghidupkan mesin (warna merah)
4. tombol pengatur kecepatan rotasi pisau pemotong (warna hitam)

Prosedur kerja :
Memasukkan bahan-bahan ke dalam mesin ini tidak secara langsung, tetapi bertahap dan berurutan. Biasanya urutan pertama bahan yang dicampurkan yaitu daging kemudian es batu, tepung, bumbu, dan terakhir es batu lagi.
Pemasakan bakso biasanya dilakukan dua tahap. Tahap pertama, bakso dipanaskan dengan suhu 60-80C, sampai bakso mengeras dan mengambang dipermukaan air. Pada tahap selanjutnya, bakso dipanaskan kembali dengan air mendidih sampai matang. Waktu kematangan yang dicapai bervariasi, tergantung bahan yang digunakan dan besar kecilnya ukuran bakso. Setelah melalui proses perebusan bakso dimasukkan ke dalam suhu dingin 0-50C (Cooling Down). Hal ini dimaksudkan untuk membunuh mikroba thermofilik (bakteri tahan suhu panas) dan mempercepat proses pengeringan bakso. Setelah itu, bakso dikeringkan dan dikemas. Hal yang harus diperhatikan dalam proses pengeringan adalah suhu akhir bakso. Biasanya berkisar 25-30C, jika lebih tinggi akan menimbulkan embun dalam kemasan (A, Yuyun, 2008)







Sumber ;
A, Yuyun. 2008. Panduan Wirausaha Membuat Aneka Bakso. Jakarta : Agro Media
Forest, J. C., Aberle,E. D., Hedrick, H. B., Judge, M. D. Dan Merkel, R. A. 1975. Principle of Meat Science.W. H. Freeman and Co., San Fransisco.
http://www.pabrikmesin.com
Mesin_Glass_Door_Expo_Freezer_Pendingin_Es_Beku_Proses_Pembekuan_Air_Es.html
Urbain, M. W. 1971. Pada The Science of Meat and Meat Product. 2nd ed. Ed. J. F. Price dan B. S Schweigert. W. H Freeman and Co., San Fransisco. Hal 402-431.


Korespondensi :
Agus Muhar NIM. 07163028 Mahasiswa Fapet Unand
Jln Moh Hatta No 47 C RT 03 RW 01 Kel Koto Tangah Kec Pauh Kota Padang,
Institusi : Fak Peternakan Universitas Andalas (UNAND) Padang Jln Limau Manis e-mail : Faterna@indosat.net http://www.faterna.unand.ac.id
muharagus@yahoo.co.id website : http://www.agussunda.blogspot.com


Minggu, 24 Oktober 2010

Memanen Energi dari 'Waste Product'

http://www.mediaindonesia.com/webtorial/klh/?ar_id=NzMwNA==, terbit 23 Mei 2010

Tema: Pengelolaan Sumber Daya Alam
Memanen Energi dari 'Waste Product'
Oleh : Agus Muhar (Mahasiswa Teknologi Hasil Ternak Fak Peternakan Unand, Padang)
Tanggal : Minggu, 23 Mei 2010

ENERGI merupakan isu yang sangat penting yang membutuhkan penanganan yang tepat. Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) 1 Juli 2008 yang melebihi 10% mengagetkan banyak orang dan mendapat reaksi penolakan dari masyarakat. Hal itu karena BBM merupakan kebutuhan vital masyarakat termasuk Sumatera Barat dan sangat terkait dengan kebutuhan lain seperti pangan, sandang dan seluruh kebutuhan hidup yang semuanya mempunyai hubungan proses produksi maupun distribusi. Cadangan minyak dunia dan juga Indonesia pada suatu waktu akan habis sehingga diperlukan kebijakan terpadu untuk dapat menjamin penyediaan energi secara cukup dan berkelanjutan. Dengan terbatasnya cadangan sumber daya fosil, perlu dimulai secara bertahap penggunaan energi alternatif selain minyak bumi.

Hal ini terlihat di Sumatera Barat yang memiliki banyak sumber energi di luar minyak bumi seperti sumber daya air sebagai pembangkit tenaga listrik dan sumberdaya mineral batubara yang penggunannya lebih banyak untuk keperluan industri dan ekspor. Namun potensi tersebut harus direncanakan, dikelola, dan dimanfaatkan secara optimal bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Disamping sumber energi diatas Sumatera Barat masih mempunyai potensi sumber energi alternatif seperti tenaga matahari, ombak/gelombang laut, angin, biomassa, biogas dan gambut yang prospek pengembangannya dimasa depan masih sangat besar. Sumber energi alternatif yang berasal dari bidang kehutanan, pertanian, perkebunan dan peternakan harus diusahakan secara luas karena bidang yang berbasis pertanian tersebut masih menjadi bidang unggulan terbesar dan merupakan bahan baku yang tersedia di Sumatera Barat sehingga dapat menjadi sumber energi alternatif di masa depan.

Pengolahan limbah ternak menjadi biogas merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi kelangkaan energi di masa yang akan datang dan sekaligus dapat mengatasi masalah pencemaran lingkungan, karena limbah ternak yang berasal dari peternakan apabila belum diolah secara maksimal akan berakibat pada pencemaran lingkungan dan penularan penyakit misalnya flu burung. Padahal kotoran ternak sebagai limbah peternakan masih mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial untuk mendorong kehidupan jasad renik secara anerob (bioteknologi) dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi (biogas).

Selain melalui air, limbah peternakan sering mencemari lingkungan secara biologis yaitu sebagai media untuk berkembang biaknya lalat. Kandungan air manure antara 27-86% merupakan media yang paling baik untuk pertumbuhan dan perkembangan larva lalat, sementara kandungan air manure 65-85 % merupakan media yang optimal untuk bertelur lalat. Selain itu juga kotoran yang menggunung akan terbawa oleh air masuk kedalam tanah atau sungai yang kemudian mencemari air tanah dan air sungai. Kotoran sapi mengandung racun dan bakteri Coli yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungannya karena ini dapat menjadi bioterrosisme. Oleh karena itu perlu penanganan yang serius untuk kotoran ternak ini dengan mengolahnya menjadi biogas yang mempunyai efek sampingan yang menguntungkan bagi kesehatan dan pendapatan masyarakat yaitu berupa pupuk organik padat dan cair yang murah dan ramah lingkungan sebagai pengganti pupuk kimia.

(Proses pemanfaatan waste product sebagai energi bio gas)

Biogas merupakan gas yang dihasilkan oleh aktifitas anaerobik atau fermentasi yang merupakan proses bioteknologi yang menggunakan mikroorganisme dalam prosesnya dari bahan-bahan organik termasuk diantaranya; kotoran manusia dan hewan, limbah domestik (rumah tangga), sampah biodegradable atau setiap limbah organik yang biodegradable dalam kondisi anaerobik. Kandungan utama dalam biogas adalah metana dan karbon dioksida. Biogas adalah gas yang mudah terbakar (flammable) yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam kondisi kedap udara) dan CO2.

Keuntungan yang diperoleh dari program biogas sebagai berikut yaitu untuk pembuatan 1 digester biogas sebesar 3,5 m3 untuk limbah ternak 10 ekor sapi memerlukan biaya Rp9.950.000,- dan mempunyai daya pakai selama 30 tahun. Biaya pertahun sebesar Rp331,667.000,- sehingga biaya perbulan Rp27.667,- dan biaya perhari hanya Rp920,-. Bila sebelum menggunakan gas bio menggunakan minyak tanah 4 L/ hari dengan harga Rp3000,- / L untuk pasteurisasi dan pengolahan air susu maka keuntungan diperoleh sebesar Rp12.000,- s/d Rp920,- = Rp11.080,- ditambah lagi keuntungan sampingan dari pupuk organik yang mempunyai harga bersih Rp1000,- / kg dan produksi / hari 40 kg padat dan cair maka keuntungan dalam bentuk materi Rp51.080,- dan 1 bulan sebesar Rp1.502.400,- ditambah kehidupan yang sehat tidak ada polusi dan makanan tidak tercemar pestisida. Hal ini juga mempunyai dampak positif pada masyarakat karena tersedianya pangan organik dan mencifatakan kesejahteraan masyarakat.

Sumatera Barat sebagai sentral peternakan diSumatera memiliki potensi pengembangan biogas yang potensial. Populasi ternak yang dimiliki merupakan sumber energi alternatif yang sangat potensial sekali. Menurut database peternakan Sumatera Barat (BPS, 2005) bahwa pada tahun 2005 jumlah populasi ternak sapi potong 419.352 ekor, kerbau 201.583, sapi perah 714 ekor, ternak unggas 23.677.420. Bila seekor sapi dan kerbau menghasilkan feses 10 kg/hari, dan seekor unggas menghasilkan feses 100 gr/hari, maka total feses di Sumbar perharinya 8.584.232 kg atau 171.685 m3, setara 103.011.000 liter biogas, bila 1 liter biogas sama dengan 1,4 liter minyak tanah, maka setara dengan 144.215.400 liter minyak tanah. Apabila harga satu liter minyak tanah 2500/liter maka total rupiah yang dapat dihemat untuk energi perharinya 3.605.385.000.000 atau 3,6 triliun rupiah perharinya. Disamping itu sisa dari pembuatan biogas ini juga dapat diolah lebih lanjut menjadi pupuk cair dan pupuk padat yang mengandung nilai N 3,1 %.

Dalam situasi krisis ekonomi seperti ini masyarakat sangat perlu masukkan IPTEK salah satunya mengenai program pengembangan biogas, karena proses biogas sangat mudah, tapi belum terlaksana dengan baik di Sumatera Barat di bandingkan di daerah lain yang telah maju. Oleh karena itu para petani peternak Sumbar menghimbau pada pihak yang berwenang agar program biogas terlaksana karena dapat meningkatkan pengetahuan, pendapatan dan kesehatan dalam menyongsong era globalisasi dan setara secara nasional maupun internasional mengingat bahwa Sumbar mempunyai bandara Internasional yang memungkinkan aktifitas usaha berskala nasional / internasional dapat diwujudkan.(*)

Jadi Ikhwan Jangan Cengeng

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Dikasih amanah pura-pura batuk..
Nyebutin satu persatu kerjaan biar dikira sibuk..
Afwan ane sakit.. Afwan PR ane numpuk..
Afwan ane banyak kerjaan, kalo nggak selesai bisa dituntut..
Afwan ane ngurus anu ngurus itu jadinya suntuk..
Terus dakwah gimana? digebuk?

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Dikit-dikit dengerin lagunya edcoustic..
udah gitu yang nantikanku di batas waktu, bikin nyelekit..
Ke-GR-an tuh kalo ente melilit..
Kesehariannya malah jadi genit..
Jauh dari kaca jadi hal yang sulit..
Hati-hati kalo ditolak, bisa sakiiiittt…

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Dikit-dikit SMSan sama akhwat pake Paketan SMS biar murah..
Rencana awal cuma kirim Tausyiah..
Lama-lama nanya kabar ruhiyah.. sampe kabar orang rumah..
Terselip mikir rencana walimah?
Tapi nggak berani karena terlalu wah!
Akhirnya hubungan tanpa status aja dah!

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Abis nonton film palestina semangat membara..
Eh pas disuruh jadi mentor pergi entah kemana..
Semangat jadi penontonnya luar biasa..
Tapi nggak siap jadi pemainnya.. yang diartikan sama dengan hidup
sengsara..
Enak ya bisa milih-milih yang enaknya aja..

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Ngumpet-ngumpet buat pacaran..
Ketemuan di mol yang banyak taman..
Emang sih nggak pegangan tangan..
Cuma lirik-lirikkan dan makan bakso berduaan..
Oh romantisnya, dunia pun heran..
Kalo ketemu Murabbi atau binaan..
Mau taruh di mana tuh muka yang jerawatan?
Oh malunya sama Murabbi atau binaan?
Sama Allah? Nggak kepikiran..
Yang penting nyes nyes romantis semriwing asoy-asoy-yaannn. .

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Disuruh infaq cengar-cengir. .
Buat beli tabloid bola nggak pake mikir..
Dibilang kikir marah-marah dah tuh bibir..
Suruh tenang dan berdzikir..
Malah tangan yang ketar-ketir. .
Leher saudaranya mau dipelintir!

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Semangat dakwah ternyata bukan untuk amanah..
Malah nyari Aminah..
Aminah dapet, terus Walimah..
Dakwah pun hilang di hutan antah berantah..
Dakwah yang dulu kemanakah?
Dakwah kawin lari.. lari sama Aminah..
Duh duh… Amanah Aminah..
Dakwah.. dakwah..
Kalah sama Aminah..

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Buka facebook liatin foto akhwat..
Dicari yang mengkilat..
Kalo udah dapet ya tinggal sikat..
Jurus maut Ikhwan padahal gak jago silat..
“Assalammu’alaykum Ukhti, salam ukhuwah.. udah kuliah? Suka coklat?”
Disambut baik sama ukhti, mulai berpikir untuk traktir Es Krim Coklat ..
Akhwatnya terpikat..
Mau juga ditraktir secara cepat..
Asik, akhirnya bisa jg ikhtilat…
yaudah.. langsung TEMBAK CEPAT!
Akhwatnya mau-mau tapi malu bikin penat..
badan goyang-goyang kayak ulat..
Ikhwannya nyamperin dengan kata-kata yang memikat..
Kasusnya sih kebanyakan yang ‘gulat’..
Zina pun menjadi hal yang nikmat..
Udah pasti dapet laknat..
Duh.. maksiat.. maksiat…

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Ilmu nggak seberapa hebat..
Udah mengatai Ustadz..
Nyadar diri woi lu tuh lulusan pesantren kilat..
Baca qur’an tajwid masih perlu banyak ralat..
Lho kok udah berani nuduh ustadz..
Semoga tuh otaknya dikasih sehat..

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Status facebook tiap menit ganti..
Isinya tentang isi hati..
Buka-bukaan ngincer si wati..
Nunjukkin diri kalau lagi patah hati..
Minta komen buat dikuatin biar gak mati bunuh diri..
Duh duh.. status kok bikin ruhiyah mati..
Dikemanakan materi yang ustadz sampaikan tadi?

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Ngeliat ikhwan-ikhwan yang lain deket banget sama akhwat mau ikutan..
Hidup jadi kayak sendirian di tengah hutan rambutan..
Mau ikutan tapi udah tau kayak gitu nggak boleh.. tau dari pengajian..
Kepala cenat-cenut kebingungan. .
Oh kasihan.. Mendingan cacingan..

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Ngeliat pendakwah akhlaknya kayak preman..
Makin bingung nyari teladan..
Teladannya bukan lagi idaman..
Hidup jadi abu-abu kayak mendungnya awan..
Mau jadi putih nggak kuat nahan..
Ah biarlah kutumpahkan semua dengan cacian makian..
Akhirnya aku ikut-ikutan jadi preman..
Teladan pun sekarang ini susah ditemukan..

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Diajakain dauroh alasannya segudang..
Semangat cuma pas diajak ke warung padang..
Atau maen game bola sampe begadang..
Mata tidur pas ada lantunan tilawah yang mengundang..
Tapi mata kebuka lebar waktu nyicipin lauk rendang..
Duh.. berdendang…

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Bangga disebut ikhwan.. hati jadi wah..
Tapi jarang banget yang namanya tilawah..
Yang ada sering baca komik naruto di depan sawah..
Hidup sekarang jadinya agak mewah..
Hidup mewah emang sah..
Tapi.. kesederhanaan yang dulu berakhir sudah?

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Dulunya di dakwah banyak amanah..
Sekarang katanya berhenti sejenak untuk menyiapkan langkah..
Tapi entah kenapa berdiamnya jadi hilang arah..
Akhirnya timbul perasaan sudah pernah berdakwah..
Merasa lebih senior dan lebih mengerti tentang dakwah..
Anak baru dipandang dengan mata sebelah..
Akhirnya diam dalam singgasana kenangan dakwah..
Dari situ bilang.. Dadaaahhh.. Saya dulu lebih berat dalam dakwah..
Lanjutin perjuangan saya yah…

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Nggak punya duit jadinya nggak dateng Liqo..
Nggak ada motor yaa halaqoh boro-boro..
Murabbi ikhlas dibikin melongo..
Binaan nggak ada satupun yang ngasih info..
Ngeliat binaan malah pada nonton tv liat presenter homo..
Adapula yang tidur sambil meluk bantal guling bentuk si komo..

Oh noo…

Jadi Ikhwan jangan cengeng…
Jadi Ikhwan jangan cengeng…
Jadi Ikhwan jangan cengeng…
Jadi Ikhwan jangan cengeng…
Jadi Ikhwan jangan cengeng…

Sudah mbaca? Mungkin ada yang bingung karena banyak istilah yang asing, tapi pastinya ada pula yang langsung senyamsenyum karena merasa kesindir…biasanya tipe yang kedua inilah yang punya gelar ikhwan. Ada puisi balasankah?

Akhwat ada yang baca? Ada respon?

OPTIMALISASI PERAN AYAM KAMPUNG SEBAGAI “PABRIK” PROTEIN HEWANI UNTUK KETAHANAN PANGAN DAN PENGENTASAN KEMISKINAN DI PEDESAAN 1)

Dr. Rusfidra, S.Pt 2)
Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang
Kampus UNAND Limau Manis, Padang, 25163
Blog: http://rusfidra.multiply.com
e-mail: rusfidra_unand@yahoo.co.id


ABSTRACT

In Indonesia, indigenous poultry have been raised by rural communities for many generations. This custom is likely to continue and remain popular in rural areas. The rural poultry sistem relies on minimal input of resources. Although secondary to other agricultural activities, rural poultry rearing plays an important role in providing the population with substantial income and high quality protein. Village chickens in particular fulfill a wide range functions, -e.g. the provision of meat and eggs, food for special festivals, chickens for traditional ceremonies, pest control and petty cash. Eggs and meat are a source of high quality protein for sick and malnourished children under the age of live. Almost every rural family keep small flock of indigenous domestic fowl under backyard farming system. Although indigenous poultry are poor producers of eggs and meat, they are hard and thrive well in the harsh rural environment and some varieties have a superior genetic constitution which has not been fully explored. There is no systematic breeding programme and closed breeding occurs among indigenous stock. Chicken are probable the most universal and important of all domesticated animal species as producers of food human consumption. Village chickens play a significant role in household food security and poverty reduction in Indonesia villages.

Key word: rural poultry, food security, poverty reduction.

1). Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Ketahanan Pangan di Kabupaten Tebo Provinsi Jambi tanggal 15 Desember 2007.
2). Staf Pengajar Fakultas Peternakan UNAND, Kampus Limau Manis, Padang, 25163.


I. PENDAHULUAN
“Negeri yang kaya ternak, tidak pernah miskin.
Negeri yang miskin ternak, tidak pernah kaya”.
(-- Pepatah Arab--- dalam Campbell dan Lasley, 1985)
1.1. Latar Belakang
Secara umum, persoalan kemiskinan, kelaparan dan malnutrisi merupakan persoalan global di negara-negara sedang berkembang. Kemiskinan dan malnutrisi merupakan masalah besar bangsa yang saling kait mengait. Belitan kemiskinan dan tingkat keterampilan yang rendah berdampak pada terbatasnya akses terhadap sumber pekerjaan yang berpenghasilan layak. Untuk kasus Indonesia, kemiskinan merupakan masalah pelik yang menjadi perhatian rezim penguasa. Namun, sayangnya program pengentasan kemiskinan yang ditawarkan pemerintah masih bersifat superfisial, instan dan belum menyentuh akar masalah penyebab kemiskinan. Belum lama pemerintah meluncurkan program bantuan langsung tunai (BLT), yakni dengan memberikan uang tunai sebanyak Rp. 300 ribu/3 bulan kepada 15,5 juta rumahtangga miskin. Fakta membuktikan, program BLT terbukti tidak berhasil menekan jumlah penduduk miskin, --malah jumlahnya makin bertambah--, namun ia “berhasil” membuat perilaku masyarakat miskin menjadi konsumtif.
Bahan pangan merupakan kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi untuk hidup sehat, produktif, kreatif dan cerdas. Selain pangan nabati, manusia juga memerlukan bahan pangan hewani (daging, susu, telur dan madu) untuk kecerdasan, memelihara stamina tubuh, mempercepat regenerasi sel dan menjaga sel darah merah (eritrosit) agar tidak mudah pecah. Meskipun masyarakat menyadari pangan hewani sebagai kebutuhan primer, namun hingga kini konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia masih sangat rendah bila dibandingkan dengan sesama negara ASEAN, apalagi bila dibandingkan dengan negara-negara maju. Asupan protein hewani yang rendah berisiko terhadap munculnya kasus malnutrisi, gangguan pertumbuhan otak anak balita, meningkatnya risiko sakit, terganggunya perkembangan mental, menurunkan performa anak sekolah dan produktivitas tenaga kerja.
Dalam konteks ini, agaknya, ayam kampung dapat dikembangkan sebagai salah satu bentuk usaha keluarga yang bermanfaat. Ayam kampung dapat diusahakan untuk mengentaskan kemiskinan dan ketahanan pangan hewani keluarga. Selain menghasilkan pangan hewani (daging dan telur), ayam kampung merupakan aset biologis, sumber uang tunai, tabungan hidup dan pupuk organik. Ayam kampung merupakan “pabrik” protein hewani yang dapat dikembangkan di seluruh negeri.
1.2. Urgensi Masalah
Merebaknya kasus gizi buruk dan busung lapar pada anak-anak usia balita beberapa waktu lalu disebabkan oleh kurangnya asupan kalori-protein. Masa balita merupakan “periode emas” pertumbuhan anak manusia dimana sel-sel otak sedang berkembang dengan pesat. Dalam periode ini protein hewani sangat dibutuhkan agar otak berkembang optimal. Oleh sebab itu, agaknya, diperlukan program penyediaan sumber protein hewani yang murah, mudah tersedia, terjangkau dan bergizi tinggi pada tingkat rumahtangga. Dalam konteks ini, hemat penulis, program “Family Poultry” (FP) berbasis ayam kampung layak dipertimbangkan sebagai sebuah solusi mengatasi malnutrisi, efektif dalam pengentasan kemiskinan, menjaga ketahanan pangan pada tingkat rumahtangga dan sebagai sumber pendapatan keluarga miskin. Tujuan FP adalah mewujudkan ketahanan pangan pada tingkat rumahtangga dan sebagai sumber uang tunai bagi keluarga miskin dan sangat miskin (Rusfidra, 2007a,d, 2006a).

II. METODA
Makalah ini dimaksudkan sebagai “road map” bagi pengambil kebijakan dalam upaya mengatasi masalah malnutrisi dan pengentasan kemiskinan secara sistematis dan berkelanjutan pada tingkat rumahtangga. Penulis mengusulkan program “Family Poultry” sebagai sumber protein hewani, sumber pendapatan dan pengentasan kemiskinan di perdesaan. Pada bagian akhir diusulkan model program FP berbasis pada ayam kampung yang dapat dikembangkan di Indonesia.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Revolusi Peternakan
Istilah Revolusi Peternakan pertama kali diperkenalkan oleh Delgado et. al. 1999. Di dalam artikel “Peternakan 2020: Revolusi Pangan Masa Depan” mereka memprediksikan akan terjadi peningkatan produksi dan konsumsi bahan pangan hewani di masa depan. Konsumsi daging penduduk dunia akan meningkat dari 233 juta ton (pada tahun 2000) menjadi 300 juta ton (pada tahun 2020). Konsumsi susu meningkat dari 568 juta ton (pada tahun 2000) menjadi 700 juta ton (pada tahun 2020), sedangkan konsumsi telur pada tahun 2020 akan mencapai 55 juta ton (www.ifpri.org). Peningkatan konsumsi bahan pangan hewani tersebut disebabkan oleh karena bertambahnya jumlah penduduk dunia, meningkatnya kesejahteranaan penduduk dunia dan meningkatnya kesadaran gizi masyarakat. Jumlah penduduk dunia yang pada tahun 2000 baru berjumlah 6 milyar orang akan melonjak menjadi 7,5 milyar orang pada tahun 2025.
Begitupun di Indonesia, untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pemerintah Indonesia meresponnya dengan meluncurkan Program Revitalisasi Pertanian, ---termasuk revitalisasi peternakan---. Ketika mencanangkan Program Revitalisasi Pertanian pada tanggal 11 Juni 2005, Presiden SBY menyebutkan empat kebijakan yang penting dilakukan, yaitu kebijakan umum pertanahan dan tata ruang, pembangunan infrastruktur pedesaan, ketahanan pangan dan perdagangan produk pertanian. Tujuan revitalisasi pertanian adalah mengatasi masalah kemiskinan dan pengangguran serta meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi nasional (Kompas, 8/6/2005).
Secara definisi, revitalisasi pertanian adalah penguatan kembali sektor pertanian dan membangun komitmen untuk menjadikan sektor pertanian sebagai sektor penting bagi tulang punggung perekonomian nasional. Hal ini karena sektor pertanian mampu menyediakan bahan pangan, dan juga telah terbukti bahwa sektor pertanian merupakan penyerap tenaga kerja terbesar di negeri ini, dimana hampir 50% tenaga kerja pada usia produktif bekerja di sektor pertanian. Karena itu, revitalisasi pertanian yang akan dilakukan tentu harus menyentuh bidang peternakan, perkebunan dan hortikultura, selain bidang tanaman pangan. Sebagai contoh, produk perkebunan Indonesia seperti karet, kakao dan kelapa sawit memiliki harga jual cukup baik di pasar internasional (Rusfidra, 2005a).
Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya bahan pangan rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutu, aman dikonsumsi, merata, dan terjangkau untuk hidup pokok. Konsep ketahanan pangan (food security) biasanya diukur dalam dua tataran, yakni makro (nasional) dan mikro (rumahtangga). Konsep ketahanan pangan pada tataran makro cenderung bias karena adanya disparitas pendapatan yang cukup lebar kelompok masyarakat berpendapatan rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi. Ketahanan pangan yang ideal adalah ketahanan pangan pada tingkat rumahtangga. Ketahanan pangan di tingkat rumahtangga mempunyai prespektif pembangunan sangat mendasar karena: 1) akses pangan dan gizi seimbang bagi seluruh rakyat merupakan hak asasi, 2) pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas sangat dipengaruhi oleh keberhasilan memenuhi kecukupan pangan dan gizi, 3) ketahanan pangan merupakan unsur strategis dalam pembangunan ekonomi dan ketahanan nasional (Rusfidra, 2005a).
Dengan jumlah penduduk lebih dari 220 juta dan masih terus bertambah 1,3% setiap tahun, sudah selayaknya Indonesia mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan secara berkelanjutan. Ada tiga dimensi yang secara implisit terkandung di dalam ketahanan pangan, yaitu ketersediaan pangan (food availability), stabilitas pangan (food stability) dan keterjangkauan pangan (food accessibility). Namun fakta yang ada cukup mencemaskan karena ketersediaan pangan secara nasional masih sangat kurang. Indikasi tersebut dapat dilihat pada masih tingginya volume impor beberapa komoditas pangan strategis, seperti beras (sekitar 1,5 juta ton), jagung (lebih dari 500 ribu ton), bungkil kedelai (hampir 100%), gandum (100%), susu (70%) (Diwyanto dan Priyanti, 2007). Selain itu, negeri tropis ini juga mengimpor daging sapi (30 ribu ton) dan sapi hidup sekitar 450 ribu ekor setiap tahunnya (Rusfidra, 2007c).
Industri ayam ras yang tumbuh pesat sejak tahun 1980-an telah berkontribusi menyediakan daging dan telur untuk konsumsi masyarakat. Namun sayangnya dalam perkembangannya, industri ayam ras sangat tergantung pada komponen impor, terutama ayam bibit (grand parent stock, GPS dan parent stock, PS), bahan pakan (bungkil kedelai, jagung, dan tepung ikan), serta bahan baku obat dan vaksin (Diwyanto dan Priyanti, 2007).
Meskipun upaya-upaya efisiensi telah mulai dilakukan, namun peternak dalam negeri tetap belum bisa mengimbangi usaha perunggasan negara Amerika Serikat. Sebagai contoh, untuk menghasilkan 1 kg daging ayam, peternak Indoensia menghabiskan biaya sebesar Rp. 11.000, sedangkan peternak di AS hanya menghabiskan Rp. 3.500 untuk bobot 1 kg daging paha ayam. Hasil studi INDEF (Kompas, 24/4/2002) memperlihatkan bahwa tingkat keuntungan terbesar (68- 72%) diraih oleh pengusaha pabrik pakan, sedangkan peternak unggas hanya meraih sedikit keuntungan, yaitu 31% pada usaha ayam ras petelur dan 3% pada usaha ayam pedaging (lihat Tabel 8). Dapat disimpulkan bahwa penggunaan pakan komersil dalam usaha ayam ras pedaging tampaknya tidak begitu ekonomis, dan hanya sedikit keuntungan yang dapat diraih peternak. Karena itu sudah masanya mulai dikembangkan pemanfaatan bahan pakan berbasis sumber daya pakan lokal sebagai bahan pakan unggas.
Tabel 1. Persentase distribusi keuntungan dalam industri ayam ras.
Pelaku Usaha Ras Petelur Ras Pedaging
Pabrik pakan ternak 68 72
Pembibit 1 25
Peternak kecil 31 3
Jumlah 100 100
Sumber: INDEF (Kompas, 24/4/2002)
Perkembangan industri ayam ras yang bertumpu pada inovasi impor, ke depan harus diupayakan untuk lebih mandiri dan handal. Pada saat wabah flu burung merebak di beberapa negara pemasok bibit (Grand Parent Stock, GPS), Indonesia kesulitan untuk memperoleh replacement. Demikian pula halnya dengan pasokan bahan pakan, ketergantungan pada kedelai dan jagung impor juga potensial mengancam kelangsungan pabrik pakan unggas di dalam negeri sebagai industri pendukung peternakan ayam ras. Apalagi negara Amerika Serikat sebagai produsen utama jagung dunia akan menggunakan 30% jagungnya untuk mengembangkan industri bioethanol, sehingga jagung menjadi langka dan sangat mahal. Sebagai misal, menurut Dwiyanto dan Priyanti (2007) harga jagung di pasar dunia pada awal tahun 2007 hanya 135 USD/ton, namun pada bulan Oktober 2007 harganya telah meningkat dua kali lipat menjadi 270 USD/ton. Harga jagung di dalam negeri juga meningkat dari Rp. 1000/kg (2006) menjadi Rp. 2.400-2.600/kg (2007). Kondisi tersebut menyebabkan dampak berantai, harga pakan terus naik dan biaya produksi ayam meningkat, dan pada gilirannya tingkat keuntungan yang diraih peternak menjadi berkurang, karena harga jual daging ayam di pasar cenderung tetap.
Saat ini harga sebutir telur setara dengan harga sebatang rokok (Diwyanto dan Priyanti, 2007), namun rata-rata konsumsi telur di Indonesia baru sekitar 46 butir/kapita/tahun. Tingkat konsumsi yang rendah bukan semata-mata karena daya beli yang rendah, namun juga karena minimnya sosialisasi pentingnya mengkonsumsi daging, telur dan susu ke masyarakat untuk meningkat kesadaran masyarakat mengenai manfaat telur bagi kesehatan dan pertumbuhan anak sangat rendah. Fakta yang lebih ironis, masyarakat justru didorong “membakar” uang untuk mengkonsumsi rokok (1000 batang/kapita/tahun), --- yang justru berpotensi merusak kesehatan---, melalui promosi komersial produsen rokok.
Tantangan lain yang harus diperhatikan adalah ketergantungan pada bibit impor yang notabene berasal dari daerah temperate yang berhawa sejuk. Bibit ternak yang bagus di negara asalnya belum tentu mampu berproduksi maksimal di lingkungan tropis yang lembab karena adanya faktor interaksi genetik-lingkungan (IGL). Kondisi ini diperburuk dengan adanya indikasi akan terjadi suhu permukaan global, sejalan dengan kenaikan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) yang pada gilirannya akan menyebabkan terjadinya perubahan iklim.
Ayam kampung yang dipelihara hampir seluruh masyarakat di pedesaan cenderung berkembang lambat. Kini terdapat sekitar 31 galur ayam kampung yang sangat potensial sebagai produsen daging dan telur. Fakta terbaru juga membuktikan bahwa ayam kampung lebih resisten terhadap penyakit flu burung dibandingkan ayam ras. Dengan demikian perkembangan industri perunggasan ke depan, tidak sepenuhnya hanya bergantung pada inovasi teknologi dan bibit impor.
3.2. Kondisi Terkini Produksi Ayam Kampung Di Indonesia
Ayam kampung merupakan ayam yang banyak dipelihara masyarakat pedesaan. Ayam ini umumnya ditemukan hidup dan berkembang di kampung-kampung, tempat dimana manusia bermukim. Itu sebabnya ayam ini dinamakan ayam kampung (village chicken, rural poultry). Manusia telah melakukan domestikasi dari ayam hutan liar dalam waktu yang lama. Relasi antara manusia dan ayam kampung bersifat mutual interaksi. Manusia memperoleh daging, telur dan uang tunai dari ayam kampung, sedangkan ayam kampung mendapatkan pakan dari sisa makanan manusia dan kandang untuk tinggal.
Kini diduga sekitar 300 juta ayam kampung tersebar dari perkotaan sampai pelosok negeri. Bila satu rumahtangga pedesaan memelihara 15 ekor ayam kampung, maka setidaknya terdapat 20 juta rumahtangga yang memelihara ayam kampung. Bila diasumsikan seekor ayam kampung memiliki nilai ekonomi Rp. 25.000., maka total nilainya adalah 7,5 trilyun. Ayam kampung berperan penting sebagai sumber pendapatan keluarga, sumber pangan hewani (daging dan telur), untuk kesenangan (hias, penyanyi, aduan), aset biologis (plasma nutfah), aset religius dan digunakan dalam ritual pengobatan.
Ayam kampung yang menjadi korban wabah flu burung misalnya, berpotensi musnah karena penyakit flu burung yang terbawa ayam ras dari luar negeri. Ternak yang tidak resisten terhadap flu burung, mati karena penyakit, sementara ayam yang resisten habis karena “dimusnahkan oleh kebijakan yang tidak bijaksana”. Tindakan “pemusnahan” ayam kampung di beberapa daerah dengan alasan mencegah penularan flu burung adalah kontraproduktif dan dapat mengganggu kestabilan ekonomi rumahtangga petani dan ketahanan pangan hewani rumahtangga. Disamping itu, Indonesia akan kehilangan plasma nutfah ayam kampung yang memiliki keunggulan spesifik.
Meskipun populasinya cukup besar, namun cara pengelolaan ayam kampung masih bersifat tradisional (100 persen). Ayam mencari makanan disekitar rumah seperti cacing tanah, limbah rumahtangga, serangga dan limbah pertanian. Jumlah pemilikan ayam skala kecil. Rataan jumlah ayam petelur 10-15 ekor/rumahtangga dapat menyuplai daging dan telur sebagai sumber pangan hewani.
Tabel 2. Populasi Ternak Unggas Indonesia tahun 1969-2000 (x 000 ekor)
(Ditjen Bina Produksi Peternakan, 2001)

No Tahun Ayam Kampung Ayam Ras Petelur Ayam Ras Pedaging Itik
1 1969 61.788 688 - 7.269
2 1974 98.650 3.450 - 13.620
3 1979 114.350 7.007 - 18.689
4 1984 166.815 29.559 110.580 24.694
5 1989 191.433 40.452 262.918 24.135
6 1994 243.261 63.334 622.965 27.536
7 1995 250.080 68.897 689.467 29.616
8 1996 260.713 78.706 755.956 29.959
9 1997 260.835 70.623 641.374 30.320
10 1998 253.133 38.861 354.004 25.950
11 1999 252.653 45.531 324.347 27.552
12 2000 259.257 69.366 530.874 29.035

Sebanyak 15 ekor ayam dewasa dapat menghasilkan 1,0-1,2 kg kotoran per hari (Aini, 1990) yang bermanfaat sebagai pupuk kandang untuk buah dan sayur di pekarangan rumah. Pada sistem produksi pedesaan, kaum perempuan memainkan peranan penting dalam pemeliharaan ayam kampung. Kegiatan memberi makan, menjual ayam, keputusan menjual ayam, keputusan vaksinasi, keputusan memotong dan mengkonsumsi daging dan telur biasanya ada pada kaum wanita. Atteh (1989) menyatakan bahwa di pedesaan Nigeria pemeliharaan ayam kampung menjadi tanggungjawab wanita (86%) dan pria (14%).
Ayam kampung merupakan salah satu bangsa ayam lokal yang populer dipelihara masyarakat diseluruh pelosok negeri. Pertumbuhan populasi unggas di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 1. Selama periode tahun 1969-2000 pertumbuhan populasi ayam kampung relatif stabil. Ketika terjadi krisis ekonomi pertengahan tahun 1997, populasi ayam ras pedaging dan petelur mengalami penurunan yang tajam. Tidak kurang 50-60 persen peternak ayam saat itu mengalami kebangkrutan karena kesulitan meneruskan usahanya akibat mahalnya harga pakan dan bibit ayam. Pada saat tersebut ayam kampung mampu menjadi penyelamat perunggasan nasional (Rusfidra, 2007d).
3. 3. Potensi Produksi Ayam Kampung
Menurut Chen et al. (1993), ayam kampung memiliki keunggulan dalam hal resistensi terhadap penyakit, resistensi terhadap panas serta memiliki kualitas daging dan telur yang lebih baik dibandingkan dengan ayam ras. Indonesia memiliki sekitar 32 galur ayam kampung, diantaranya ayam pelung, ayam bekisar, ayam kokok balenggek, ayam nunukan, ayam merawang, ayam sentul dan lain sebagainya. Ayam-ayam tersebut merupakan plasma nutfah yang potensial dikembangkan sebagai penghasil telur dan daging.
Secara umum, ternak memiliki peran yang sangat signifikan dalam kehidupan dan vitalitas masyarakat dipedesaan (Hogberg et. al. 2005). Selain menyediakan daging dan telur untuk konsumsi, ayam ini juga dipelihara untuk menghasilkan uang tunai, memiliki nilai penting dalam aktivitas sosial (misalnya pesta jamuan untuk menghormati tamu dan untuk hadiah) dan untuk upacara keagamaan (ibadah kurban) (Yami, 1995). Studi yang dilakukan Atteh (1989) memperlihatkan bahwa tujuan pemeliharaan ayam kampung adalah: untuk mendapatkan uang tunai (11%), konsumsi sendiri (28%), untuk pendapatan dan konsumsi (45%), upacara keagamaan (3%), pendapatan dan upacara keagamaan (11%), upacara keagamaan dan konsumsi (3%) dan untuk ornamental (hiasan) (1%). Sistem produksi ayam kampung dan beberapa faktor terkait dapat dilihat pada Gambar 1.


Gambar 1. Sistem produksi ayam kampung dan beberara faktor terkait (Riise et. al. 2005 dalam Rusfidra, 2007d).

Pada umumnya, ayam kampung dipelihara oleh petani pedesaan dengan sistem ekstensif tradisional. Sepanjang waktu, ayam kampung dibiarkan bebas berkeliaran dan malam hari biasanya ternak pulang kekandang yang dibuat seadanya. Kandang biasanya terbuat dari bahan sederhana yang terdapat disekitar kampung dan mudah didapat dengan harga murah. Dinding kandang terbuat dari bambu, lantai dari kayu atau tanah dan atap dari daun palem atau jerami. Tempat makan dan air minum (jika tersedia) terbuat dari pot plastik atau tabung alumunium. Makanan biasanya diberikan satu-dua kali sehari pada pagi dan malam hari. Tipe peternakan yang diterapkan dalam produksi ternak di Indonesia adalah sistem pekarangan (backyard). Sistem pemeliharaan ayam kampung secara tradisional atau sistem pedesaan sangat populer di pedesaan (Gueye, 1998).
Terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas ayam kampung, antara lain melalui perbaikan mutu genetik (seleksi dan persilangan), perbaikan mutu pakan, perbaikan manajemen pemeliharaan, pencegahan penyakit (terutama penyakit ND), perbaikan kelembagaan penyuluhan, dan jaminan pasar. Perbaikan manajemen pemeliharaan dari pola ekstensif menjadi semi intensif dan intensif terbukti dapat meningkatkan produktivitas ayam kampung (lihat Tabel 3).
Tabel 3. Performans ayam kampung pada tiga pola pemeliharaan (Diwyanto et. al. 1996)
No. Sifat Pola Pemeliharaan
Ekstensif Semi intensif Intensif
1. Produksi telur/ekor/tahun 47 59 146
2. Produksi telur (%) 13 29 40
3. Frekuensi bertelur (kali/thn) 3 6 7
4. Daya tetas telur (%) 74 79 84
5. Bobot telur (%) 39-48 39-48 39-43
6. Konsumsi ransum/hr (g) < 60 60-68 80-100 7. Konversi ransum > 10 8-10 4,9-6,4
8. Mortalitas < 6 mgg (%) 50-56 34-42 ---
3.4. Status Kepemilikan Ayam Kampung
Pada sistem produksi pedesaan, kaum perempuan memainkan peranan penting dalam pemeliharaan ayam kampung, karena banyak pekerjaan yang bisa dilakukan oleh kaum perempuan seperti memberi makan, menjual ayam, pengambil keputusan penjualan ayam, pengambil keputusan melakukan vaksinasi, pengambil keputusan untuk memtong ayam, mengkonsumsi daging dan telur (Alders dan Spradbrow, 2001). Aktivitas tersebut dimungkinkan karena dalam pemeliharaan ayam kampung tidak dibutuhkan tenaga yang kuat dan dapat dijadikan sebagai usaha sampingan kaum wanita.
Studi yang dilakukan Atteh (1989) memperlihatkan bahwa di pedesaan Nigeria pemeliharaan ayam kampung menjadi tanggungjawab wanita (86%) dan pria (14%). Pola pemilik ayam kampung di Gambia: wanita (47%), keluarga (38%), pria (12%) dan wanita dan anak-anaknya (3%). Data tersebut di atas membuktikan bahwa pemilikan dan pemeliharaan ayam kampung di pedesaan umumnya dilakukan oleh kaum wanita dan dibantu anak-anaknya.
3.5. Tantangan Penyediaan Protein Hewani
Hingga kini ternak domestik belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi produk peternakan. Hal ini merupakan tantangan besar dalam penyediaan bahan pangan hewani sebagai sumber protein yang dibutuhkan oleh masyarakat. Saat ini konsumsi protein hewani penduduk Indonesia masih sangat rendah yakni 4,5 gram/kapita/hari, sementara konsumsi protein hewani masyarakat dunia adalah 26 gram/kapita/hari (Tuminga et.al. 1999 dalam Rusfidra, 2007d).
Merebaknya kasus gizi buruk (malnutrisi) dan busung lapar pada anak-anak usia bawah lima tahun (balita) beberapa waktu lalu sangat merisaukan kita sebagai bangsa. Masa balita merupakan “periode emas (the golden age)” pertumbuhan anak manusia dimana sel-sel otak sedang berkembang dengan pesat. Dalam periode ini protein hewani sangat dibutuhkan agar otak berkembang secara optimal, tidak sampai tulalit, (Nadesul, Kompas 9/7/05). Anak balita yang kurang gizi menyebabkan pertumbuhan sel-sel otaknya kurang berkembang dengan baik, sehingga bila otaknya discan maka akan terlihat seperti “otak kosong”, sedangkan anak balita yang mengkonsumsi gizi yang cukup dalam masa pertumbuhannya, maka hasil scaning otaknya menunjukkan profil “otak berisi” (Paturusi, 2007).
Selain itu, agaknya, diperlukan program penyediaan sumber protein hewani yang murah, mudah tersedia, terjangkau dan bergizi tinggi pada tingkat rumahtangga. Dalam konteks ini, program “Family Poultry” layak ditimbang sebagai sebuah solusi mengatasi terjadinya malnutrisi, efektif dalam pengentasan kemiskinan, menjaga ketahanan pangan pada tingkat rumahtangga dan sebagai sumber pendapatan (Rusfidra, 2005a, Rusfidra, 2005c, Rusfidra, 2005d).
Meskipun masyarakat menyadari pangan hewani sebagai kebutuhan primer namun hingga kini konsumsi protein hewani penduduk Indonesia sangat rendah. Pada tahun 2000, konsumsi daging unggas penduduk Indonesia hanya 3,5 kg/kapita/tahun, sedangkan konsumsi penduduk Malaysia (36,7 kg), Thailand (13,5 kg), Fhilipina (7,6 kg), Vietnam (4,6 kg) dan Myanmar (4,2 kg) (Poultry International, 2003 dalam Rusfidra, 2007d). Konsumsi daging unggas penduduk Indonesia hanya 10 gram/kapita/hari, sedangkan Malaysia 100 gram/kapita/hari.
Konsumsi telur penduduk Indonesia juga rendah, yakni 2,7 kg/kapita/tahun, sedangkan Malaysia 14,4 kg, Thailand 9,9 kg dan Fhilipina 6,2 kg. Bila satu kilogram telur rata-rata terdiri atas 17 butir, maka konsumsi telur penduduk Indonesia sekitar 46 butir/kapita/tahun atau 1/8 butir/kapita/hari. Pada periode yang sama, penduduk Malaysia setiap tahunnya memakan 245 butir telur atau 2/3 butir telur/kapita/hari.
Konsumsi protein hewani atau produk peternakan (daging, telur dan susu), secara cita rasa dan fungsionalnya amat berbeda dengan produk tanaman pangan sumber karbohidrat seperti ubi-ubian, beras dan jagung. Permintaan terhadap produk tanaman pangan pada umumnya bersifat inferior, yang tingkat konsumsinya akan menurun seiring dengan peningkatan pendapatan konsumen, sedangkan permintaan terhadap produk peternakan cenderung bersifat ‘mewah’, yang meningkat cepat atau bahkan lebih cepat dari laju peningkatan pendapatan konsumen. Ada kecenderungan peningkatan pendapatan diikuti dengan meningkatnya konsumsi pangan hewani.
Analisis paling akhir oleh Prof. I.K Han, guru besar Ilmu Produksi Ternak Universitas Nasional Seoul (1999) menyatakan adanya kaitan positif antara tingkat konsumsi protein hewani dengan umur harapan hidup (UHH) dan pendapatan perkapita. Semakin tinggi konsumsi protein hewani penduduk semakin tinggi umur harapan hidup dan pendapatan domestik brutto (PDB) suatu negara. Negara-negara berkembang seperti Korea, Brazil, China, Fhilipina dan Afrika Selatan memiliki konsumsi protein hewani 20-40 gram/kapita/hari, UHH penduduknya berkisar 65-75 tahun. Negara-negara maju seperti AS, Prancis, Jepang, Kanada dan Inggris konsumsi protein hewani masyarakatnya 50-80 gram/kapita/hari, UHH penduduknya 75-85 tahun. Sementara itu, negara-negara yang konsumsi protein hewani di bawah 10 gram/kapita/hari seperti Banglades, India dan Indonesia, UHH penduduknya hanya berkisar 55-65 tahun (Han, 1999).
3.5. Produksi “Family Poultry”
“Family Poultry” (FP) merupakan program Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) untuk mendukung tersedianya sumber protein hewani, sumber pendapatan dan pengentasan kemiskinan di negara-negara berkembang. Program ini dikembangkan di negara-negara sub-Sahara Afrika, Asia Tenggara, Asia Selatan dan Amerika Selatan dengan menjadikan ayam kampung sebagai sumber protein hewani dan pendapatan keluarga. Tujuan FP adalah mewujudkan ketahanan pangan pada tingkat rumahtangga dan sebagai sumber uang tunai bagi keluarga miskin dan sangat miskin. Olukosi (2005) dalam Rusfidra (2007c,d) menyimpulkan bahwa FP merupakan sebuah piranti (tool) dalam pengentasan kemiskinan.
Dengan melihat keberhasilan program FP di beberapa negara berkembang, penulis menduga bahwa program ini layak dikembangkan di Indonesia. Jenis ternak yang akan menjadi basis pengembangan program FP adalah ayam kampung (Rusfidra, 2005a,c, 2006, 2007). Ayam kampung banyak dipelihara masyarakat di perdesaan. Pada tahun 1997 terdapat 270,7 juta ekor ayam kampung (Ditjen Peternakan, 1997) yang tersebar diseluruh negeri. Daging dan telurnya sangat digemari masyarakat karena bergizi tinggi, gurih, dan digemari konsumen. Model sistem produksi “Family Poultry” berbasis 10 ekor ayam kampung ditampilkan pada Gambar 2.
Menurut Aini (1990), pemeliharaan ayam kampung petelur sebanyak 10-15 ekor per rumahtangga dapat menyuplai daging dan telur sebagai bahan pangan sumber protein hewani anggota keluarga. Untuk kasus Indonesia, penulis menyarankan FP dikembangkan dengan populasi dasar 10 ekor ayam betina dan 1 ekor jantan. Bila setiap induk menghasilkan telur rata-rata 50 butir/ekor/tahun (ini adalah asumsi produksi rendah), maka dalam satu tahun dihasilkan 500 butir telur. Adapun rasio pemanfaatan telur adalah sebagai berikut: 250 telur ditetaskan (50%), 150 telur dikonsumsi (sumber protein hewani) (30%) dan 100 telur dijual (20%).
Bila diasumsikan daya tetas sebesar 80% maka didapatkan 200 ekor anak ayam umur sehari (DOC, day old chick). Bila angka mortalitas 40% pada ayam umur di bawah delapan minggu dan 16% pada ayam dara (di atas delapan minggu), maka didapatkan 96 ekor ayam dara. Sebanyak 24 ekor ayam dipotong untuk dimakan, 24 ekor dijual dan 48 ekor akan dijadikan induk (breed stock). Ini berarti dalam waktu satu tahun untuk setiap 10 ekor induk akan menghasilkan 48 ekor ayam betina calon induk baru per tahun, sehingga total jumlah induk betina adalah 58 ekor, meningkat 5,8 kali dari populasi dasar. Selain itu, petani juga mendapatkan uang tunai sebanyak Rp. 670.000, mengkonsumsi 150 butir telur dan 24 ekor ayam pada tahun pertama, dan meningkat 5,8 kali pada tahun berikutnya.


















Gambar 2. Model sistem “Family Poultry” berbasis 10 ekor ayam kampung
untuk mengatasi gizi buruk dan pengentasan kemiskinan (Rusfidra, 2005a,c, 2007a,d)

Bila ayam kampung dipelihara dengan baik, maka ayam tersebut akan memainkan peranan penting sebagai sumber protein hewani (daging dan telur) dan sebagai sumber pendapatan bagi rumahtangga miskin, sehingga kasus malnutrisi dapat diatasi secara sistematis. Oleh karena itu, program FP layak ditimbang sebagai sebuah solusi praktis dalam mengatasi kasus gizi buruk, efektif dalam pengentasan kemiskinan dan menjaga ketahanan pangan pada tingkat rumahtangga bagi 15,5 juta rumahtangga miskin di Indonesia (Rusfidra, 2005a, 2007d).
IV. PENUTUP
4.1. Simpulan
Dari paparan terdahulu dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Ayam kampung dapat diusahakan untuk mengentaskan kemiskinan masyarakat dan sebagai “pabrik” protein hewani untuk ketahanan pangan hewani rumah tangga di pedesaan. Selain menghasilkan daging dan telur, ayam kampung merupakan aset biologis (plasma nutfah), sumber pendapatan, tabungan hidup (bio investasi) dan sumber pupuk organik.
2. Pengembangan “Family Poultry” berbasis ayam kampung, agaknya, dapat dilakukan untuk mendukung tersedianya protein hewani, sumber pendapatan dan pengentasan kemiskinan.
4.2. Rekomendasi
Ayam kampung layak dipertimbangkan sebagai solusi dalam penyediaan protein hewani (asal ternak), sebagai sumber pendapatan dan pengentasan kemiskinan masyarakat di pedesaan.
DAFTAR PUSTAKA

Aini, I. 1990. Indigenous poultry production in South East Asia. World Poult. Sci. 46: 51-57.
Alders, R and P. Spadbrow. 2001. Controling Newcastle Desease in Village Chickens: A Field Manual. Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR). ACIAR Monograph No 82.
Atteh, J. O. 1989. Rural poultry production in Western Middle Belt Regoin of Nigeria. In: Proceeding of an International Workshop on Rural Poultry Development in Africa. (Sonaiya, E.B., Ed.), Ile-Ife Nigeria, pp. 211-220
Campbell, J. R, and Lasley, J. F. 1985. The Science of Animals that Serve Humanity. Ed. 3rd . McGraww-Hill Publication in the Agricultural Science.
Chen. C. F., Y. P. Lee., Z. H. Lee., S. Y. Huang and H. H. Huang. 1993. Heritability and genetic correlations of egg quality traits in Taiwan’s local chickens. AJAS, 6 (3): 433-440.
Delgado, C., M. Rosegrant, H. Steinfeld. S. Ehui and C. Courbois. 1999. Livestock 2020: The next food revolution. www.ifpri.org/2020/briefs/number61.html
Diwyanto, K dan A. Priyanti. 2007. Pengembangan industri peternakan berbasis sumber daya lokal. Makalah pada Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) IX. Jakarta: LIPI dan Ditjen Dikti Depdiknas, 20-22 November 2007.
Diwyanto, K, D. Zainuddin, T. Sartika, S. Rahayu, Djufri, C. Arifin dan Cholil. 1996. Model pengembangan peternakan rakyat terpadu berorientasi agribisnis. Komoditi ternak ayam kampung. Jakarta: Laporan Ditjen Peternakan bekerjsama dengan Balai Penelitian Ternak.
Direktorat Jendral Bina Produksi Peternakan. 2001. Buku Statistik Peternakan. Departemen Pertanian. Jakarta.
Gueye, E.H. F. 1998. Village egg and fowl meat production in Africa. World Poult. Sci. Journal. 54: 73-86
Han, I. K. 1999. Role of animal agriculture for the quality of human life in the 21st century. Asian-Aus. J. Anim. Sci. 12 (5): 815-836.
Hogberg, M. G., S. L. Falest., F. L. Kirschenmann., M. S. Honeyman., J. A. Miranowski, and P. Lasley. 2005. Interrelationships of animal agriculture, the environment, and rural communities. J. Anim. Sci. 83 (E. Suppl.): E13-E17.
Paturusi, I. A. 2007. Kontribusi ilmu pengetahuan dalam pengembangan Kawasan Timur Indonesia. Makalah dipresentasikan pada Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) IX. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia – Ditjen Pendidikan Tinggi Depdiknas. 20-22 November 2007.
Rusfidra. 2007a. Paradigma Baru Pembangunan Peternakan; Membangun Peternakan Bertumpu Ternak Lokal. Bogor: CENDEKIA Publishing House.
Rusfidra. 2007b. Ternak dan Pengentasan Kemiskinan. Bogor: CENDEKIA Publishing House.
Rusfidra. 2007c. Pengembangan peternakan di kawasan pesisir. Makalah dipresentasikan pada Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) IX. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia – Ditjen Pendidikan Tinggi Depdiknas. 20-22 November 2007.
Rusfidra. 2007d. Rural poultry keeping in Indonesia to household food security and poverty alleviation. Prosiding Seminar Nasional PERSADA ke-13. Bogor: Perhimpunan Alumni dari Jepang (PERSADA) – FKH IPB. 9 Agustus 2007.
Rusfidra. 2007e. Pengembangan model “Family Poultry” berbasis ayam kampung untuk pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan hewani dan kecerdasan SDM. Prosiding SEMIRATA BKS PTN-Barat tahun 2007. Faperta UNRI, Pekanbaru, 23-26 Juli 2007.
Rusfidra. 2007f. Ayam kampung diambang kepunahan? Artikel www.cimbuak.net (6 Februari 2007)
Rusfidra. 2006a. Pengembangan peternakan unggas berbasis “Family Poultry” untuk mewujudkan ketahanan pangan hewani dan perbaikan mutu gizi. Prosiding Seminar Nasional SPMIPA. Semarang: FMIPA. Univ. Diponegoro, 9 September 2006.
Rusfidra. 2006b. Model pengembangan peternakan di wilayah pesisir untuk mewujudkan ketahanan pangan hewani, pengentasan kemiskinan dan kecerdasan SDM. Prosiding Konferensi Nasional Pengelolaan Pesisir, Laut dan Pulau-pulau Kecil. Batam: Departemen Kelautan dan Perikanan, Hotel Novotel Batam, 29 Agustus s/d 1 September 2006.
Rusfidra. 2006c. BLT, malnutrisi dan family poultry. Artikel www.bung-hatta.ac.id (20 Februari 2006).
Rusfidra. 2005a. Mencegah gizi buruk dan mengentaskan kemiskinan; peternakan skala rumahan. Artikel iptek Pikiran Rakyat Bandung, 25 Agustus 2005.
Rusfidra. 2005b. Protein hewani dan kecerdasan. Artikel Opini Sinar Harapan, Jakarta, 8 September 2005.
Rusfidra. 2004. Peternakan dan ketahanan pangan. Artikel iptek Majalah Amanah No 50 th XVII Mei 2004, Jakarta
Rusfidra. 2003. Sistem produksi ayam kampung di pedesaan Indonesia. Jurnal Eksakta, 2003, Hal. 35-45. ISSN 0215-2673. Padang: FMIPA Universitas Negeri Padang.
Yamamoto, Y., T. Namikawa., I. Okada., M. Nishibori., S. S. Manjoer and H. Martojo. 1996. Genetical studies on natives chickens in Indonesia. AJAS, 9 (4): 405-410.
Yami, A. 1995. Poultry production in Ethiopia. World Poult. Sci. Journal 51: 197-201.

Penulis,

Dr. Rusfidra, S.Pt
(Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan UNAND)
Penulis dilahirkan di Nagari Kudu Gantiang, Kab. Padang Pariaman, Sumatera Barat, 22 Juni 1971. Lulus S1 Fakultas Peternakan UNAND Padang pada tahun 1994. Pada tahun 2004 memperoleh gelar doktor Ilmu Peternakan dari IPB Bogor. Saat ini penulis bekerja sebagai staf pengajar Fakultas Peternakan UNAND. Penulis belajar menulis secara mandiri sejak tahun 2002. Ia telah menulis 100 artikel dan 65 diantaranya dimuat di media massa nasional (Republika, Sinar Harapan, Pikiran Rakyat, Padang Ekspres, Amanah, Tarbawi, Buletin Charoen Pokphand) dan beberapa website. Dalam tahun 2007, penulis menerbitkan 4 buku populer peternakan dan 1 buah buku teks yang dipakai secara nasional (khususnya oleh mahasiswa Universitas Terbuka). Ia juga aktif menyampaikan makalah pada berbagai forum seminar ilmiah tingkat nasional di berbagai kota (Jakarta, Bogor, Bandung, Batam, Banten, Yogyakarta, Semarang, Pekanbaru dan Bandar Lampung), di berbagai lembaga (LIPI, Pusat Inovasi LIPI, Puslit Bioteknologi LIPI, FKH IPB, Faperta IPB, FMIPA UNDIP, FMIPA UNES, FMIPA UNY, Faperta UNRI, Lemlit UNILA, PPs UPI, DKP, PPs USAHID, Ditjen Hortikultura DEPTAN, Puslitbang Peternakan dan FMIPA UT). Kumpulan tulisannya dapat dibaca di blog: http://rusfidra.multiply.com

Alamat korespondensi:
Dr. Rusfidra, S.Pt
Kampus FATERNA UNAND Limau Manis, Padang, 25163
HP. 0813-8065-8871
Blog : http://rusfidra.multiply.com
Email : rusfidra_unand@yahoo.co.id